PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI ADALAH CARA GURU MENCINTAI ANAK DIDIKNYA

Oleh: Baiq Ratna Ikhlas

Ada dua hal yang bisa didapat dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu satu para peserta didik bisa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dan yang kedua adalah desain pembelajaran guru bisa diimplementasikan dengan lebih efektif.

Berikut dipaparkan pengertian, tujuan, ciri/karakteristik, persiapan, strategi dan pelaksanaan, dan indikator keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi.

  1. Pengertian

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberikan perlakuan sama. (https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pembelajaran-berdiferensiasi-dan-penerapannya-di-kelas/)

 

  1. Tujuan

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk memberikan keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. (https://www.pintar.tanotofoundation.org/belajar-diferensiasi-solusi-menajamkan-potensi-siswa/)

 

  1. Ciri/Karakteristik

Ciri atau karakteristik pembelajaran berdiferensiasi terletak pada:

  1. Lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar
  2. Tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas
  3. Penilaian berkelanjutan
  4. Merespon kebutuhan belajar murid
  5. Manajemen kelas yang efektif

(https://youtu.be/LLzpPFxJFqQ)

 

  1. Persiapan

Sebelum melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru melakukan 3 pemetaan, yaitu:

  1. Kesiapan Belajar

Pemetaan untuk menjaring peserta didik dengan kemampuan untuk memahami materi yang mudah, kompleks, abstrak, dan kongkret.

  1. Minat

Pemetaan untuk menjaring peserta didik berdasarkan minatnya di bidang sciene, prakarya, olah raga, seni, dan lain-lain.

  1. Profil Belajar

Dalam memetakan peserta didik berdasarkan profil belajar, yang perlu dipertimbangkan adalah lingkungan sosial dan budaya, beserta karakter belajar mereka yaitu audio, visual, dan kinestetik.

(https://youtu.be/nRPZiSeWk7A)

 

  1. Strategi dan Pelaksanaan

Ada 3 strategi yang diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu:

  1. Diferensiasi konten, yaitu mengacu pada apa yang dipelajari dan materi pelajaran yang disajikan kontennya
  2. Diferensiasi proses, yaitu mengacu pada modifikasi aktivitas instruksional atau model pengajaran yang digunakan oleh guru untuk memastikan siswa menggunakan “keterampilan kunci” untuk menganalisis gagasan dan informasi
  3. Diferensiasi produk, yaitu keluaran atau sarana dimana siswa mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari

(https://youtu.be/LLzpPFxJFqQ)

 

  1. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi tampak pada proses dan hasil pembelajaran. Indikator keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi diantaranya:

  1. siswa merasa nyaman dalam belajar,
  2. adanya peningkatan keterampilan baik dari segi hard skill maupun soft skill, dan
  3. adanya kesuksesan belajar dari seorang murid yaitu murid mampu merefleksikan diri kemampuannya dimulai dari titik awal pembelajaran sampai peningkatan diri selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran.

(https://www.smansapaguyangan.sch.id/read/161/pembelajaran-berdiferensiasi#)

 

Ada dua hal yang esensial yang menjadi kunci keberhasilan pembelajaran bagi para peserta didik, yaitu:

  1. Strategi dan Manajemen Kelas
  2. Strategi dan Desain Pembelajaran

Kedua hal ini akan membawa para guru untuk sampai pada tahap keberhasilan sebuah pembelajaran secara khusus, dan keberhasilan pendidikan secara lebih global. Mari kita cermati kasus-kasus di bawah ini.

Kasus di lapangan: Sebagai guru kita terkadang mengalami sendiri ataupun memperoleh informasi saat sharing dengan rekan kerja terkait aktivitas pembelajaran di kelas, contoh:

  1. di kelas A (high level) proses pembelajaran berjalan lancar dengan hasil yang menyenangkan baik bagi guru maupun siswa, di kelas B (middle level) pembelajaran biasa saja, siswa menerima apapun materi maupun tugas dari guru bahkan hubungan antara guru dan siswa seperti layaknya seorang teman akrab, di kelas C (low level) siswa merana guru pun merana.
  2. jam pertama mengajar di kelas high level, hasil lancar, jam berikutya pindah ke kelas low level, sang guru harus mengeluarkan energi serasa mengajar di 3 kelas sekaligus saat berada di kelas low level ini, hasil tidak lancar dan merasa gagal L, jam berikutnya pindah lagi ke kelas middle level dimana kondisi sang guru masih membawa sikon seperti mengajar di low level, sampai di kelas terasa aneh sendiri.
  3. jam pertama mengajar di low level, kondisi kelas baik-baik saja, berikutnya pindah ke kelas high level, siswa bosan dan sibuk sendiri baik dengan HP-nya atau tertidur atau ngobrol sendiri, akhirnya guru pun terpaksa melapor ke piket, melapor ke walikelas, maupun ke jurusan
  4. siswa bosan, siswa sibuk sendiri, siswa keluar kelas tak henti-hentinya, siswa mencari perhatian dengan cara yang tidak seharusnya, siswa tidak mau mengerjakan tugas, siswa tidak mau memperhatikan guru, dan berbagai macam jenis aktivitas yang pada akhirnya membuat guru kehilangan kendali emosi dan merasa gagal.

Pertanyaan-nya: Apakah para guru tidak bisa mengajar? Ataukah para siswa yg tidak ingin belajar? No, that’s not the answer, jawabannya adalah karena kita “menyamakan” Strategi & Management Kelas beserta Desain Pembelajaran untuk semua Tingkat Kompetensi Siswa. KONTEN-nya SAMA, PROSES-nya SAMA, PRODUK-nya pun SAMA, padahal LEVEL KOMPETENSI SISWA kita BERBEDA. Contoh:

  1. Kita menjalankan Strategi untuk kelas yang tertib dengan Desain Pembelajaran High Level, yaitu Membuat 10 contoh kalimat Conditional Sentences Type 3, 10 contoh Passive Voice lengkap mewakili setiap tense, kemudian rangkailah kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf deskripsi. Hasilnya: Kelas yang memiliki Kompetensi High Level akan merasa “tertantang” dan akan sangat bersemangat mengerjakan LKPD tersebut. Kelas yang Middle antara Ya dan Tidak, dan kelas yang Low Level akan segera “menyerah”. Pada akhirnya guru akan “memuji” kelas yang High dan akan “mengungkapkan kekecewaan” pada kelas yang Low, dan “no comment” pada kelas yang Middle.
  2. Kita mendesain strategi dan pembelajaran sederhana/simple. Di kelas Low, desain ini akan menunjukkan keberhasilan dengan betapa bahagianya para siswa mengerjakan LKPD. Dan mereka pun bisa mengerti dan paham dengan kosa-kata yang dipergunakan guru dalam memberikan instruksi di dalam kelas. Sementara untuk yg High Level mereka akan merasa “bosan” karena tidak menemukan “tantangan” pada desain pembelajaran tersebut. Bahkan bisa jadi mereka “menolak kehadiran guru” yang “terindikasi membosankan” ini.

Sungguh “dilematik”, tapi “realistik”. Karena masing-masing mereka sesungguhnya memiliki karakteristik belajar:

  1. High Level -à memerlukan TANTANGAN
  2. Middle/Average -à biasa/sedang saja (sekadar menggugurkan kewajiban)
  3. Low Level -à memerlukan SUPPORT yang lebih karena dasar kompetensi mereka masih goyah

(https://youtu.be/VmZqWNqtC4E)

 

Jadi Bapak Ibu Guru Hebat, mari kita memberikan motivasi berupa “tantangan”, baik tantangan dalam “konten, proses, dan produk” pada anak didik kita di level high, sembari kita merengkuh anak didik kita yang berada di level low agar tidak jatuh, dan kita pertahankan anak didik kita yang berada di level middle agar tetap kokoh, karena setiap guru adalah pemimpin untuk anak didiknya.

 

Sekian dan terima kasih. J

 

 

Referensi

 

https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pembelajaran-berdiferensiasi-dan-penerapannya-di-kelas/

 

https://www.pintar.tanotofoundation.org/belajar-diferensiasi-solusi-menajamkan-potensi-siswa/

 

https://www.smansapaguyangan.sch.id/read/161/pembelajaran-berdiferensiasi#

 

https://youtu.be/LLzpPFxJFqQ

 

https://youtu.be/nRPZiSeWk7A

 

https://youtu.be/VmZqWNqtC4E

 

https://youtu.be/Gh9-nq46Z5M

 

https://youtu.be/Bwhf0zaTYws

 

________________________________

Sumber gambar : https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id

Editor : Yasdwipura