Menjadi Pendidik yang Berkarakter

Sebuah sumber mengatakan bahwa, pendidikan adalah pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan dan penelitian. Pendidikan tidak hanya diperoleh seseorang dari bimbingan orang lain, tetapi kadang pendidikan juga sering terjadi secara otodidak. Setiap pengalaman yang mengarah kepada pengukuran atau penilain secara formatif tentang cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu maupun bertindak dapat dikatakan pendidikan.

Sebagian besar orang beranggapan, pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih berharga daripada pendidikan formal. Mark Twain mengatakan, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.” Ini menunjukkan bahwa pendidikan itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

Baca juga :   Mengenal Mental Block

Berbicara tentang pendidikan tidak akan pernah ada habisnya. Terutama pendidikan yang sifatnya formal—sekolah.

Pada Kurikulum 2013 terdapat lima penilaian karakter yaitu religius, nasionalisme, integritas, mandiri dan gotong royong. Sedangkan dalam kurikulum Merdeka mengalami perubahan menjadi enam penilaian karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bernalar kritis, bergotong royong, mandiri dan kreatif. Saat ini, pendidikan karakter lebih diutamakan daripada pendidikan akademik karena pendidikan karakter mampu meningkatkan prestasi akademik peserta didik. Apa sih sebenarnya pendidikan karakter itu?

Beberapa pakar menjelaskan tentang pengertian dari pendidikan karakter. Di antaranya, T. Ramli mengatakan, pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak, sehingga hal tersebut akan mampu membentuk pribadi peserta didik yang baik. Sementara menurut Elkind, pendidikan karakter yaitu suatu metode pendidikan yang yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mempengaruhi karakter murid. Dalam hal ini, guru tidak hanya sebatas mengajarkan materi pelajaran kepada peserta didik, tetapi juga mampu menjadi teladan. Selain itu, John W. Santrock juga menyebutkan bahwa pendidikan karakter ialah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan secara langsung kepada peserta didik untuk menanamkan nilai moral dan memberikan pelajaran kepada mereka mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang.

Dari ketiga penjelasan tersebut, titik utama dari pendidikan karakter itu adalah pendidikan moral. Bagaimana kita sebagai pendidik mampu menanamkan nilai moral kepada peserta didik sehingga mampu membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Kurangnya pendidikan karakter tentu saja akan menyebabkan krisis moral yang berdampak pada munculnya berbagai perilaku menyimpang, seperti penyalahgunaan narkoba, perkelahian antar pelajar, pencurian, dan lain sebagainya.

Menghadapi sekian banyak peserta didik dengan berbagai karakter tentu saja bukanlah perkara mudah. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam menanamkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

Baca juga : TOXIC Untuk Diri Sendiri

  1. Menjadi teladan

Seperti yang disampaikan oleh Elkind bahwa guru tidak hanya sekadar mampu menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi peserta didik. Segala bentuk tingkah laku seorang guru tentu saja akan menjadi perhatian mereka. Sehingga hendaklah pendidik juga harus berhati-hati dalam berucap dan bertingkah laku.

  1. Memberikan apresiasi

Setiap anak sangat senang ketika mendapatkan penghargaan atau apresiasi walaupun hanya sebuah pujian. Dengan begitu, mereka akan merasa dihargai. Jadi,  pendidik jangan pelit memberikan apresiasi terhadap perubahan berupa kemajuan sekecil apapun kepada peserta didik.

  1. Senantiasa menyisipkan pesan moral di setiap kegiatan pembelajaran

Menyampaikan manfaat dalam setiap kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan kesadaran, bahwa apa yang sudah dipelajari akan memberikan kebermafaatan untuk masa depan mereka.

  1. Jujur dan Open-Minded

Bersikap terbuka terhadap kritikan dan masukan atau koreksi dari peserta didik serta berani bersikap jujur dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Dengan begitu, akan menimbulkan rasa simpati dari peserta didik sehingga akan meniru apa yang guru lakukan.

  1. Mengajarkan sopan santun

Selalu mengajarkan pentingnya bersikap sopan santun terhadap semua orang, baik kepada sesama teman terlebih lagi kepada orang yang lebih dewasa—guru. Memberikan teguran kepada peserta didik yang bertindak tidak sopan dengan cara yang baik dan lemah lembut.

  1. Menanamkan Leadership

Memberikan sebuah tanggungjawab terhadap peserta didik dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan (Leadership). Pada saat peserta didik dipercaya sebagai ketua kelas, ketua kelompok dalam sebuah diskusi dapat menimbulkan rasa percaya diri.

  1. Berbagi pengalaman inspiratif

Baca juga : B E R U B A H

Pendidik dapat berbagi pengalaman yang inspiratif kepada peserta didik. Baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Dengan begitu akan membuat mereka terinspirasi untuk berubah menjadi lebih baik. Pengalaman inspirasi tidak hanya berkisah tentang keberhasilan, tetapi juga sebaliknya, lalu bagaimana orang-orang tersebut bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan.

Keberhasilan pendidikan karakter seorang anak sangat ditentukan oleh karakter lingkungan itu sendiri. Oleh sebab itu pendidik maupun orang tua hendaklah selalu menanamkan nilai-nilai karakter yang layak diteladani oleh anak.

Sebagai bahan renungan :

“Sudahkah kita menjadi pendidik sekaligus orang tua yang berkarakter?”

Semua jawaban ada pada diri kita masing-masing

 

Mataram, 30 September 2022

Sumber gambar : pengetahuanku13.net

Penulis :Hariyanti, S.Pd (guru Bahasa Indonesia)

Editor : Yasdwipura, I Nengah (tim media center)