ABSTRAK

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan

hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram

Tahun Pelajaran 2021/2022

 

Sawaludin

sawaludinsd@yahoo.co.id

Kata Kunci: Penerapan Model Problem Based Learning (PBL), proses dan hasil belajar, elemen  alat ukur dan alat uji

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022. Metode penelitian menggunakan deskriptif. Penelitian dirancang dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahapan : 1. Planing (perencanaan), 2. Action (tindakan), 3. Observasi (pengamatan), dan 4. Reflection (refleksi) tindakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Untuk mendiskripsi penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET dilakukan dengan analisis dan penafsiran.  Hasil analisis peneliti yaitu ; jumlah kehadiran siswa meningkat pada siklus I, jumlah kategori kesiapan guru dalam indicator Siap 100%, dan jumlah kategori kesiapan siswa dalam indikator Meningkat. Untuk hasil belajar setelah diadakan evaluasi pembelajaran dari pra siklus tanpa penerapan model Problem Based Learning (PBL) ke siklus I, kemudian dari siklus I ke siklus II dalam proses yang sama hasilnya mengalami peningkatan termasuk peningkatan Indeks Prestasi Komulatif (IPK), secara berurutan Pra siklus – siklus I – siklus II, masuk dalam Kategori : Rendah – Normal – Tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan : Peningkatan proses dan hasil belajar sebagai kreteria keberhasilan penelitian menunjukkan peningkatan. Jadi penelitian Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram menghasilkan pembelajaran efektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, sikap sosial, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Engkoswara. & Komariah. (2010;88). Tujuan siswa masuk SMK adalah untuk mendapatkan keterampilan/keahlian sesuai dengan pilihan kompetensi keahliannya.

Memahami alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika masuk dalam tujuan salah satu elemen dari mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan. Model pembelajaran Problem-based learning pada elemen alat ukur dan alat uji menurut peneliti sesuai dengan karakteristik kompetensi dari Capaian pembelajaran pada fase E yakni peserta didik mampu memahami fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya, termasuk penggunaan alat ukur dan alat uji.

Dari latar belakang tersebut penelitian ini mengangkat judul “Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022”

  1. Perumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022?

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Kajian Teori
  2. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL).
    1. Penerapan

Penerapan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perbuatan menerapkan.  Penerapan adalah perbuatan menggunakan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Capaian Pembelajaran pada kurikulum merdeka pembelajaran dapat dilakukan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta model yang sesuai dengan karakteristik yang harus dipelajari, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta diddik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemanddirian sesuai dengan bakat, minat, rencana, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Untuk pendekatan pembelajaran berbasis hasil karya meliputi pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pelatihan berbasis produk (production-based training), dan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) serta teaching factory. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2018 pada Implementasi Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan pada analisis penerapan model pembelajaran

  1. Model Problem Based Learning (PBL)

Pembelajaran berbasis masalah yang berasal dari bahasa inggris Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu siswa memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya. Pembelajaran berbasis masalah menyarankan kepada siswa untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada siswa untuk belajar sendiri, Pahriah (2017;249).

Model Problem Based Learning (PBL), merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok, serta lingkungan nyata (autentik) untuk mengatasi permasalahan sehingga menjadi bermakna, relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000). Dalam Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2018.

Sintaks model Problem Based Learning dari Bransford and Stein (dalam Jamie Kirkley, 2003:3) Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2018 terdiri atas:

  • Mengidentifikasi masalah
  • Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan menyeleksi informasi-informasi yang relevan;
  • Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternatif-alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang;
  • Melakukan tindakan strategis, dan

Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan.

  1. Konsep belajar.

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Sebagian besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar, Pahriah (2017;1). Proses Belajar adalah Proses yang sengaja direncanakan agar terjadi perubahan perilaku. Perubahan-perubahan perilaku ini merupakan hasil belajar yang mencakup ranah; kognitif, afektif, dan psikomotorik, (Bloom, dkk) dalam Suprayekti (2003;4). Pahriah (2017;3) menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru, serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa.

  1. Alat ukur dan alat uji (listrik dan elektronika)

Layanan pendidikan adalah berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan terjadinya kondisi proses pembelajaran yang baik atau bermutu, Yadi H., dkk. (2006;18).  Tujuan dari elemen alat ukur dan alat uji pada mata pelajara Dasar-dasar Teknik terbarukan adalah memahami alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika. Sesuai dengan tujuan pembelajaran membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar yang terkait energi terbarukan untuk menumbuh kembangkan minat peserta didik terhadap kompetensi keahliannya dengan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap (hard skills dan soft skills) salah satunya meliputi memahami alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika.

Elemen Alat ukur dan alat uji, terurai Deskripsi Meliputi pengenalan alat ukur dan alat uji, fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya, penggunaan alat ukur dan alat uji. Capaian Pembelajaran pada akhir fase E peserta didik mampu memahami fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya, termasuk penggunaan alat ukur dan alat uji. Alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika pada penelitian ini dibatasi yakni materi besaran Kuat arus listrik dengan satuan Ampere (A), Beda Potensial/Tegangan dengan satuan Volt (V), dan Resistansi dengan satuan Ohm (Ω). Besaran dan satuan dari alat ukur dan alat uji tersebut telah ada pada sebuah alat yang di sebut Multitester dan dikenal pula dengan sebutan AVO meter.

  1. Pembelajaran elemen alat ukur dan alat uji Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan dan Pengalaman Belajar.

Hilgard dan Brower dalam Oemar H. (2009:45) mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek, dan pengalaman. Oemar H. (2009:164) terdapat empat tujuan minimum (minimum objectives) tentang fungsi dan tujuan-tujuan pengajaran :

  1. Mengajar bertitik tolak dari “kekeliruan” agar tidak melakukan dan tidak mengalami bahaya dari kekeliruan itu.
  2. Instructive error menggunakan kekeliruan untuk meningkatkan pengajaran agar siswa dapat memahami kekeliruan.
  3. Machines programmed for artificial intelligence. Anggapan ini didasarkan atas pendapat bahwa ruang perhatian itu terbatas, demikian pula ingatan. Oleh karena itu, kita hanya bisa menguasai sejumlah items yang bebas dalam jiwa serta dapat memanipulasi dan mentransformasikannya.
  4. Pengajaran bukan menyajikan materi dari beberapa mata pelajaran, melainkan menyajikan informasi dengan cara dan struktur tertentu sehingga siswa memperoleh maksimum regenerative travel dan materi yang telah ditunjuk kepadanya.

Alat ukur dan alat uji Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan

  1. Pengenalan alat ukur dan alat uji ; Alat ukur dan alat uji pada pembelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan cukup banyak. Pada penulisan ini cukup diperkenalkan alat ukur dan alat uji untuk elektronika dan listrik yang dibatasi oleh penulis sesuai dengan batasan tujuan kurikulum merdeka.

Jenis alat ukur dan alat uji listrik yang digunakan diperkenalkan antara lain;

Multimeter Analog/ Multimeter Digital.

  1. Fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya

Multitester dikenal pula dengan sebutan AVO meter. Fungsi AVO meter untuk mengukur besaran Kuat arus listrik dengan satuan Ampere (A), Beda Potensial/Tegangan dengan satuan Volt (V), dan Resistansi dengan satuan Ohm (Ω). Fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya dalam proses belajar dapat dilakukan dengan simulasi.

  1. Penggunaan alat ukur dan alat uji

Penggunaan suatu alat dapat mengacu dari buku manual produk alat tersebut. Alat ukur dan alat uji untuk dimengerti jangan sampai salah pakai. Bila salah pakai maka  akibatnya ; bisa fatal bagi alat tersebut, fatal bagi kelangsungan pekerjaan kita, dan merugikan orang lain yang akan membutuhkannya.

Pengalaman Belajar.

Pada kurikulum yang di kenal dengan K13 menerapkan Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah. Menurut Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 lampiran IV dalam Syawal G (2014;32) proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu : 1. Mengamati, 2. Menanya, 3. Mengumpulkan informasi, 4. Mengasosiasi, dan 5. Mengkomunikasikan.

Pada penelitian ini penerapan Model Problem Based Learning (PBL) merupakan Strategi pembelajaran penyampaian pengalaman belajar secara efektif kepada siswa dalam pembelajaran pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET dengan harapan dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran.

 

  1. Evaluasi, Pengukuran, dan Penilaian dalam belajar

Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai Cross, 1973;5 dalam Sukardi H. (2008;1). Penilaian tidak sama dengan pengukuran, tetapi saling terkait  satu dengan yang lain. Pengukuran adalah usaha untuk mengetahui berapa banyak hal yang telah dimiliki oleh siswa setelah mempelajari keseluruhan materi yang telah disampaikan kepadanya. Tugas pengukuran berhenti sampai mengetahui “ berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa” tanpa memperhatikan arti dan penafsiran terhadap banyaknya pengetahuan yang dimilikinya itu. Penilaian meliputi semua aspek batas belajar. Oemar H. (2009:203)

  1. Teknik penilaian dan alat evaluasi

Dalam pengertian umum alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata “alat” biasa disebut juga dengan istilah “instrument”. Dengan demikian maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi. Suharsimi A (2010;25-26)

Tes adalah penilaian yang komprehensip terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program Encyclopedia of Educational Evaluation dalam Suharsimi A (2010;33).

Selain beberapa teknik dan alat penilaian diatas terdapat pula pengumpulan data dengan dokumentasi sebagai instrumen pelengkap untuk menjaring data-data yang berupa dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian. Riduwan (2011;31) Dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian.

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Objek dan Subyek Penelitian

Objek Penelitian

Objek penelitian adalah apa saja yang diteliti oleh seorang peneliti Prasetya, I. (2009;12.40). Penelitian ini berlokasi di SMK Negeri 3 Mataram Kota Mataram. Penelitian direncanakan bulan April  Tahun 2022. Kelas yang diteliti adalah kelas X TET pada semester genap Tahun Pelajaran 2021/2022. Berdasarkan jadwal pelajaran maka penelitian akan dilaksanakan pada tgl 9 sd tgl 29 April  Tahun 2022.

 

Karena dalam suasana endemi covid 19 maka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka untuk kelas X TET dilaksanakan pada siang hari dan waktu terbatas mulai dari pukul 11.00 sampai pukul 14.30.  Karakteristik siswa SMKN 3 Mataram walaupun telah disebut sekolah maju namun menurut pengamatan peneliti siswa jaman sekarang memiliki karakter belajar santai, masih mengulurkan waktu masuk kelas, kepedulian lingkungan kurang, hal-hal tersebut menunjukkan proses belajar kurang, tentu mendatangkan hasil kurang pula.

 

Subyek Penelitian.

Yang dijadikan subyek penelitian atau identik dengan cara mengambil sampel (sampling techniques) pada penelitian bersifat purposif yaitu direncanakan sebagai berikut :

  1. Siswa kelas X TET yang terdaftar di absen guru mata pelajaran pada Tahun Pelajaran 2020/2021
  2. Siswa yang hadir mengikuti proses kegiatan belajar dan evaluasi selama penelitian dilaksanakan, yaitu termasuk dari pra penelitian sampai selesai dilaksanakannya evaluasi siklus II.

Data yang diperoleh dari penelitian Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET  ini adalah; 1. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL), yaitu mendiskripsikan  tentang  Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil nyata dengan hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) sebagai strategi pengajaran dapat “mempertinggi proses dan hasil belajar”. 2. Data pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET, data ini diperoleh dari tujuan pengajaran elemen  alat ukur dan alat uji. Tujuan dari elemen alat ukur dan alat uji pada mata pelajara Dasar-dasar Teknik terbarukan adalah memahami alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika. Dan Deskripsi pembelajaran secara rinci sebagai berikut:  1.  pengenalan alat ukur dan alat uji, 2. fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya, 3. penggunaan alat ukur dan alat uji.

 

  1. Prosedur Penelitian

Rancangan penelitian pada PTK ini ditetapkan penelitian dirancang dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahapan : 1. Planing (perencanaan), 2. Action (tindakan), 3. Observasi (pengamatan), dan 4. Reflection (reflksi) tindakan.

Siklus I dan ke II dilakukan dengan tahapan siklus yang sama, tetapi terdapat pebaikan-perbaikan dengan mengkaji atau mengamati kembali Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar.

  1. Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Diperjelas sebagai berikut :

  1. Observasi

Observasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung dimana peneliti langsung mengadakan pengamatan terhadap siswa di Ruangan bengkel /dalam kelas.

  1. Tes

Tes adalah penilaian yang komprehensip terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program. Encyclopedia of Educational Evaluation dalam Suharsimi A (2010;33)

Tes diturunkan dari instrument (alat ukur). Diperjelas dengan skema berikut :

Instrument (alat ukur)        tes               tes kognitif        tes psikomotorik/kinerja

Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kognitif, psikomotor/kinerja, kepada siswa yaitu siswa dapat ; 1. mengenal nama alat ukur dan alat uji, 2. Memahami fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya, 3. Mempraktekkan  penggunaan alat ukur dan alat uji. Alat ukur dan alat uji yang digunakan berkisar pada elektronika dan listrik. Hasil dari pekerjaan siswa tersebut dikumpulkan dan diatur secara sistematis, kemudian diperiksa dan akhirnya diberikan penilaian sebagai hasil dari kegiatan belajar mereka.

 

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah; 1. Data penerapan model Problem Based Learning (PBL), yaitu mendiskripsikan  tentang  penerapan model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil nyata dengan hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan penerapan model Problem Based Learning (PBL)  dapat “mempertinggi proses dan hasil belajar”. 2. Data pembelajaran pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET, data ini diperoleh dari tujuan pengajaran elemen  alat ukur dan alat uji sebagai berikut:  1.  memahami alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika.  Alat ukur dan alat uji untuk listrik dan elektronika pada penelitian ini dibatasi yakni materi besaran Kuat Arus Listrik dengan satuan Ampere (A), Beda Potensial/Tegangan dengan satuan Volt (V), dan Resistansi dengan satuan Ohm (Ω).

Metode dokumentasi pada penelitian ini adalah suatu metode yang digunakan untuk memperoleh data dari catatan peristiwa dan data siswa yang ada di kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022. Selain itu data yang diperoleh dengan  metode dokumentasi adalah nama siswa dan kelasnya yang diperoleh dari data absen/dapodik.

.

  1. Teknik Analisis Data

Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Dengan menganalisis secara deskriptif, guru sekaligus sebagai peneliti dapat melihat gambaran distribusi para siswa yang menjadi anak didiknya, Sukardi H (2008;146). Prosedur analisis data

Rumus rata ideal dan simpangan ideal :

Mean ideal (Mi) =  1/2  (SMi),  Standar Deviasi ideal (SDi) = 1/3 (Mi).

dimana :

  1. MI + SDI =  Tinggi
  2. MI ±  SDI = Sedang
  3. MI – SDI =  Rendah

Berikut kriteria pedoman indeks prestasi kelompok (IPK) sebagai berikut :

  1. 0 –      30      =     Sangat rendah
  2. 31 –      54      =     Rendah
  3. 55 –      74      =     Normal
  4. 75 –      89      =     Tinggi
  5. 90 –      100    =     Sangat tinggi
  6. Analisis, Penafsiran, dan Kriteria Keberhasilan

Secara teknis-aplikatif, penelitian ini dilakukan untuk mendiskripsikan Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar pada pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET. Maka untuk mendiskripsi Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar pada pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET dapat dilakukan dengan analisis dan penafsiran.

Perspektif yang sistematis dan holistik

Kreteria keberhasilan penelitian

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET dapat dikatakan efektif apabila terjadi “peningkatan proses dan hasil belajar siswa” setelah dilakukan/dilaksanakan evaluasi dari pra siklus yang ditunjukkan dari nilai pre tes ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II.

.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL)

Berdasarkan hasil observasi selama proses belajar dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran elemen alat ukur dan alat uji didapatkan hasil berupa : Hasil observasi guru pada siklus I dari semua indikator yang dimulai dari ; 1. Kegiatan awal, 2. Kegiatan inti, 3. Kegiatan akhir, semua indikator yang diobservasi masuk dalam kategori tercentang  ya. Berarti guru telah memiliki kesiapan mengajar dalam analisis siap. Hal ini dari sisi guru memiliki peningkatan proses dalam kesiapan mengajar.

Hasil observasi siswa (siklus I) dari tujuh indikator terdapat lima indikator dalam kategori ya dan dua indikator kategori tidak. Dua indikator kategori tidak antara lain ; 1. siswa tidak memiliki kesiapan dalam belajar yang ditunjukkan dengan terdapatnya siswa ada yang tidak memiliki alat tulis (pen), tidak memilki buku paket/ Hp yang standar termasuk Kuota Internet, 2.  kurang antusias dalam belajar. Hasil observasi siswa pada PTK siklus I dapat dijadikan posisi pijakan bagaimana peningkatan proses belajar siswa pada siklus berikutnya. Indikator yang termasuk kategori ya antara lain : 1. siswa merasa senang dalam belajar , 2. siswa memiliki daya serap yang tinggi saat belajar, 3. siswa sering memanfaatkan waktu untuk berdiskusi di sekolah, 4. siswa aktif berintraksi saat berlangsungnya proses kegiatan belajar  mengajar di ruang bengkel/kelas. Selain itu terdapat pula siswa sering  ngantuk waktu belajar.

Hasil observasi guru, pada siklus II dari semua indikator yang dimulai dari ; 1. Kegiatan awal, 2. Kegiatan inti, 3. Kegiatan akhir, semua indikator yang diobservasi masuk dalam kategori siap. Dalam pembelajaran ini guru telah memiliki kesiapan mengajar. Hal ini  pada sisi guru menunjukkan peningkatan proses optimal dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil observasi siswa (siklus II). Dari tujuh indikator terdapat ke semuanya indikator dalam kategori ya, dan satu indikator kategori ia tetapi negative yaitu apakah siswa sering  ngantuk waktu belajar. Hasil observasi siswa pada PTK siklus II terjadi peningkatan proses proses pembelajaran berupa : 1. Siswa memiliki kesiapan dalam belajar 2.  Antusias dalam belajar, 3. Siswa merasa senang dalam belajar , 4. Siswa memiliki daya serap yang tinggi saat belajar, 5. Siswa sering memanfaatkan waktu untuk berdiskusi di sekolah, 6. Siswa aktif berintraksi saat berlangsungnya proses kegiatan belajar  mengajar diruang bengkel/kelas.

Hasil Belajar Siswa

Dari hasil belajar sebelum PTK yang terevaluasi di pre tes awal siklus I dapat diketahui kemampuan siswa dalam pembelajaran elemen alat ukur dan alat uji sebelum penerapan model Problem Based Learning (PBL) sebagai model pembelajaran yaitu data diperoleh Mean (M) = 20,2. Nilai tertinggi 35 sedangkan nilai terendah 10. Pengkategorian nilai individu pada pre tes (pra siklus I), dengan Mean (M) yang diperoleh sebesar 20,2 dari 24 siswa,  nilai kategori rendah dicapai oleh 23 siswa atau 95,83 %, kategori sedang dicapai oleh 1 siswa atau 4,17 %, dan kategori tinggi 0%. Dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa masuk dalam kategori rendah.

Siklus I

Pengkategori data dengan Mean (M) yang diperoleh sebesar 62,96 dari 27 siswa. Nilai kategori tinggi dicapai oleh 7 siswa atau 25,93%, kategori sedang dicapai oleh 20 siswa atau 74,07%, dan kategori rendah 0%. Dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa masuk dalam kategori normal.

Siklus II

Pengkategori data dengan Mean (M) sebesar 78,26 dari 23 siswa, nilai kategori tinggi dicapai oleh 21 siswa atau 91,3 %, kategori sedang 2 siswa atau 8,7 % dan rendah 0%. Tetapi jika dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa belum mencapai kategori sangat tinggi yaitu antara 90-100. Keberadaan kemampuan siswa posisi 78,26 berada pada pertengahan atau antara 75-89 masuk dalam kategori tinggi.

Analisis Data dan Penafsiran

Peningkatan proses pembelajaran dapat dipantau dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Diantaranya ; jumlah kehadiran siswa, jumlah kategori kesiapan guru dalam indikator, dan jumlah kategori kesiapan siswa dalam indikator dan datanya teranalisis dalam tabel berikut.

Tabel. Data hasil observasi jumlah kehadiran siswa, jumlah kategori kesiapan guru, dan jumlah kategori kesiapan siswa.

Nama Kegiatan dan Hari/ tgl. Pelaksanaan Jumlah Kehadiran Siswa dari 36 Siswa Jumlah Kategori Kesiapan Guru dari 11 Indikator Jumlah Kategori Kesiapan Siswa dari 7 Indikator
Pra Siklus. Tgl;  9 April 2022 24 = 66,66 %
Siklus I. Tgl; 16 April 2022 27 = 75 % 11 indikator ia 5 indikator ia – 1 negatif = 4 positif = 57,14%
Siklus II. Tgl; 23 April 2022 23 = 63,88 % 11 indikator ia 7 indikator ia – 1 negatif = 6 positif = 85,71%
Analisis hasil Meningkat dan menurun Siap 100% = optimal Meningkat

Penafsiran peningkatan proses pembelajaran.

Menurut analisis data hasil observasi jumlah kehadiran siswa, jumlah kategori kesiapan guru, dan jumlah kategori kesiapan siswa maka proses pembelajaran dari kehadiran siswa dari prasiklus ke siklus I meningkat yaitu dari pra siklus 24 = 66,66 %  menjadi 27 = 75 %  pada siklus I. Kemudian dari siklus I ke siklus II menurun yaitu = 75 % di siklus I menjadi 63,88 % pada siklus II. Sedangkan terhadap kesiapan siswa menerima pelajaran dari silkus I memiliki kesiapan 57,14% pada siklus II meningkat menjadi 85,71%. Berikutnya kesiapan guru dari 11 indikator observasi siap 100%, berarti kesiapan dapat mencapai optimal.

Mengenai hasil belajar siswa dapat dikaji melalui hasil penilaian atau evaluasi pembelajaran dari Pra Siklus, penilaian pada Siklus I, dan Siklus II yang telah diatur pada tabel berikut.

 

Tabel. 4.18. Hasil Evaluasi Pembelajaran Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II.

Kemampuan Pra Siklus (pre tes) Siklus I Siklus II
Individu
–     Tinggi 0% 25,93 % 91,3 %
–     Sedang 4,17 % 74,07 % 8,7 %
–     Rendah 95,83 % 0% 0%
Kelompok
–     IPK 20,2 62,96 78,26
–     Kategori Rendah Normal Tinggi

Penafsiran hasil belajar.

Menurut analisis data hasil evaluasi pembelajaran Pra Siklus (pre tes) , penilaian Siklus I, dan penilaian Siklus II  maka hasil belajar berdasarkan kemampuan individu meningkat yaitu : pada pre tes kemampuan rendah 95,83 %, kemampuan sedang 4,17 %. Kemampuan individu pada siklus I yaitu sedang 74,07 %, tinggi 25,93 %. Pada siklus II kemampuan individu didapat yaitu sedang 8,7 %, tinggi 91,3 %.

Hasil belajar berdasarkan kemampuan kelompok dari Pra Siklus (pre tes), penilaian Siklus I, dan penilaian Siklus II  dapat ditafsirkan memiliki peningkatan. Nilai IPK pada pra siklus 20,2. Pada siklus I naik menjadi 62,96. Demikian terhadap IPK siklus I ke siklus II naik dari 62,92 menjadi 78,26. Sedangkan didalam pengkategorian pada pra siklus (pre tes) masuk dalam kategori rendah, Siklus I masuk dalam kategori sedang, dan siklus II masuk dalam kategori tinggi.

Dari penafsiran peningkatan proses belajar dan penafsiran hasil belajar kedua indikator menunjukkan peningkatan tetapi terdapat variasi pada data proses belajar di bagian kehadiran siswa yaitu jumlah kehadiran siswa. Data kehadiran siswa suatu tidak diharapkan  tapi ini data apa adanya. Sedangkan penafsiran hasil belajar kedua indikator menunjukkan peningkatan, jadi pada penelitian penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022 menghasilkan pembelajaran efektif.

Pembahasan

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar pada pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji berdasarkan hasil analisis data dan penafsiran serta uraian pembahasan diatas, untuk mengetahui ada tidaknya perbandingan antara pembelajaran pra siklus (tanpa penerapan model Problem Based Learning (PBL)) atau penjajakan PTK, dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL)  pada siklus I dan siklus II, maka peneliti dapat mengulas kembali hasil diskripsi data.  Data pembelajaran tanpa penerapan model Problem Based Learning (PBL)) pra siklus di dapatkan Mean (M) = 20,2. Pengkategorian nilai individu pada pre tes (pra siklus I), dengan Mean (M) yang diperoleh sebesar 20,2 dari 24 siswa,  nilai kategori rendah dicapai oleh 23 siswa atau 95,83 %, kategori sedang dicapai oleh 1 siswa atau 4,17 %, dan kategori tinggi 0%. Dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa masuk dalam kategori rendah.

Selanjutnya hasil deskripsi data pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL))  sebagai model pembelajaran pada siklus I diperoleh Mean (M) = 62,96 berarti Mean (M) mengalami peningkatan. Pengkategori data dengan Mean (M) yang diperoleh sebesar 62,96 dari 27 siswa. Nilai kategori tinggi dicapai oleh 7 siswa atau 25,93 %, kategori sedang dicapai oleh 20 siswa atau 74,07 %, dan kategori rendah 0%. Dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa masuk dalam kategori normal.

Demikian pula terhadap hasil deskripsi data pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL)) sebagai model pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan yaitu data diperoleh Mean (M) = 78,26. Kategori data dengan Mean (M) sebesar 78,26 dari 23 siswa, nilai kategori tinggi dicapai oleh 21 siswa atau 91,3 %, kategori sedang 2 siswa atau 8,7 % dan rendah 0%. Tetapi jika dilihat dari indeks prestasi kumulatif, maka kemampuan siswa belum mencapai kategori sangat tinggi yaitu antara 90-100. Keberadaan kemampuan siswa posisi 78,26 berada pada pertengahan atau antara 75-89 masuk dalam kategori tinggi.

Peningkatan proses pembelajaran dapat dipantau dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Diantaranya ; jumlah kehadiran siswa, jumlah kategori kesiapan guru dalam indikator, dan jumlah kategori kesiapan siswa dalam indikator. Hasil analisis peneliti yaitu ; jumlah kehadiran siswa dari pra siklus ke siklus I meningkat. Dari siklus I ke siklus II menurun. Menurunnya kehadiran siswa pada siklus II suatu yang tidak diharapkan tapi sebagai peneliti mengunkapkan data ini adanya. Kehadiran siswa menurun disebabkan karena faktor diri siswa dengan model jaman sekarang; masuk sekolah sampai pada parkiran, masuk di lingkungan sekolah tetapi tidak masuk ruang kelas. Selain faktor tersebut juga kurang pengawasan dan pendekatan dari orang tua wali terhadap anaknya. Jumlah kategori kesiapan guru dalam indikator Siap 100%, dan jumlah kategori kesiapan siswa dalam indikator meningkat.

Sedangkan untuk hasil belajar setelah diadakan evaluasi pembelajaran dari pra siklus tanpa penerapan model Problem Based Learning (PBL)) ke siklus I, kemudian dari siklus I ke siklus II dalam proses yang sama (penerapan model Problem Based Learning (PBL)) hasilnya mengalami peningkatan termasuk peningkatan Indeks Prestasi Komulatif (IPK), secara berurutan Pra siklus – siklus I – siklus II, masuk dalam Kategori : Rendah – Normal – Tinggi.

Nana S dan Ahmad R (2013; 7) guru berkewajiban memberikan bantuan kepada siswa tentang apa yang harus dipelajarinya, bagaimana siswa mempelajarinya serta hasil-hasil apa yang diharapkan diperolehnya. Pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMK semester genap boleh dibilang termasuk dalam pembelajar pemula sebagai dasar menuju ke fase F di kelas XI pada penerapan mapel kejuruan. Siswa seharusnya tidak boleh pasif, tetapi harus proaktif menanya, memahami dan mengalisis apa yang harus dipelajari.

Penerapan adalah perbuatan menggunakan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Capaian Pembelajaran pada kurikulum merdeka pembelajaran dapat dilakukan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode serta model yang sesuai dengan karakteristik yang harus dipelajari, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta diddik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemanddirian sesuai dengan bakat, minat, rencana, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Tujuan Pembelajaran PBL untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/ nyata, pengintegrasian konsep High Order Thinking Skills (HOTS) yakni pengembangan kemampuan berfikir kritis, kemampuan pemecahan masalah, dan secara aktif mengembangkan keinginan dalam belajar dengan mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and Schmidt) dalam Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2018.

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) oleh peneliti sebagai strategi dalam meningkatkan proses dan hasil belajar pada pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET dalam bentuk  diantaranya; 1. Pengenalan nama alat ukur dan alat uji. 2. Menjelaskan fungsi alat ukur dan alat uji sesuai dengan jenisnya. 3. Membuat  langkah-langkah penggunaan alat ukur dan alat uji.  Alat ukur dan alat uji yang digunakan berkisar pada elektronika dan listrik sesuai dengan tujuan kurikulum pada elemen alat ukur dan alat uji.

Akhir pembahasan berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka peneliti dapat menyatakan bahwa : Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) sebagai strategi model pembelajaran cukup membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dalam proses dan hasil belajar pada pembelajaran  elemen  alat ukur dan alat uji elektronika dan listrik mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram semester genap Tahun Pelajaran 2021/2022.

Berdasarkan kreteria keberhasilan penelitian, data menunjukkan terjadi peningkatan proses dan hasil belajar siswa maka penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dapat diterapkan pada pembelajaran  elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan dan menghasilkan pembelajaran efektif.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram dapat diungkapkan sebagai berkut;

  1. Peningkatan proses dalam pembelajaran.

Hasil penelitian proses pembelajaran dari kehadiran siswa yaitu ;

  • Dari pra siklus = 66,66 % ke siklus I = 75 % berarti meningkat.

Terhadap kesiapan siswa menerima pelajaran

  • Silkus I memiliki kesiapan 57,14% pada siklus II meningkat menjadi 85,71%.

Kesiapan guru dari 11 indikator observasi kategori siap 100%, berarti kesiapan dapat mencapai optimal.

  1. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran

Hasil penelitian berdasarkan kemampuan individu meningkat yaitu :

  • Pada pre tes kemampuan rendah 95,83 %, kemampuan sedang 4,17 %.
  • Pada siklus I kemampuan sedang 74,07 %, kemampuan tinggi 25,93 %.
  • Pada siklus II kemampuan sedang 8,7 % , kemampuan tinggi 91,3 %.

Hasil belajar berdasarkan kemampuan kelompok memiliki peningkatan :

  • Nilai IPK pada pra siklus 20,2. Pada siklus I naik menjadi 62,96.
  • IPK siklus I dengan nilai 62,96 pada siklus II naik menjadi 78,26.
  • Sedangkan didalam pengkategorian secara berurutan Pra siklus kategori rendah– siklus I kategori normal – siklus II kategori tinggi.

Peningkatan proses dan hasil belajar sebagai kreteria keberhasilan penelitian, data menunjukkan peningkatan. Jadi penelitian Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada elemen  alat ukur dan alat uji mata pelajaran Dasar-dasar Teknik Energi Terbarukan Kelas X TET SMKN 3 Mataram menghasilkan pembelajaran efektif.

  1. Saran
  2. Peningkatan proses pembelajaran dapat dipantau dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung.
  3. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) sebagai model pembelajaran dapat dijadikan salah satu alternatif strategi dalam proses pembelajaran elemen alat ukur dan alat uji.
  4. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) sebagai model  pembelajaran dapat diterapkan pada pembelajaran elemen  alat ukur dan alat uji.
  5. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) sebagai model pembelajaran pada elemen  alat ukur dan alat uji dapat menghasilkan pembelajaran efektif.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Buku-buku

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2018. Analisis Penerapan Model Pembelajaran Pelatihan Dan Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan

Engkoswara. & Komariah (2010). Admnistrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Nana, S. & Ahmad, R. (2013). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Oemar, H. (2009). Psikologi Belajar & Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Pahriah. (2017). Teori Belajar & Aplikasinya Dalam Pembelajaran. Selong Lotim: Garuda Ilmu.

Prasetya, I. (2009). Metodologi Penelitian Administrasi. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.

Riduwan. (2011). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suharsimi, A. (2010). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.

Sukardi, H.M. (2008). Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

Suprayekti. (2003). Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Syawal, G. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun Ajaran 2014/2015 Mata Pelajaran Biologi SMA/SMK Untuk Guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  1. Dokumen-dokumen.

http://repository.stei.ac.id › .. Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) › .. 28 juli 2022

Yadi, H., Danny, M., & Arief, R. (2006). Pemberdayaan Komite Sekolah, Modul 1, Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Diambil  08 Oktober 2011, dari situs http://akhmadsudrajat.wordpress.com > Peran Strategis Komite Sekolah