Menjadi Bijaksana di Era Digital

Sahabat, kali ini saya akan membahas satu istilah yang mungkin sebagian orang mudah diucapkan tapi ketika dalam aplikasinya tidak sesuai dengan yang diucapkan, apalagi di saat ini di era digital dimana setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya tentunya dengan aturan yang sudah ditetapkan. Saat ini di era digital kehidupan masyarakat sudah sangat berubah, kehidupan di keluarga juga berubah, kehidupan di instansi/perkantoran/perusahaan juga berubah terutama sejak ditemukannya internet.

Secara pengetahuan mungkin banyak yang paham tetapi dalam pelaksanaannya tidak mudah dilakukan sehingga sering muncul (maaf) cemooh : “Ah teori”.

Apa itu ?

Satu kata yang penuh makna yaitu “bijaksana” di era digital.

Ok mari simak uraian di bawah ini.

Bijaksana

Mari simak penjelasan dari pengertian kata bijaksana terlebih dahulu .

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) , “bijaksana” itu memiliki pengertian  yaitu :

1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran

2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya

Mari kita lanjutkan pembahasan ini :

Bijaksana memiliki pengertian selalu menggunakan akal budinya yaitu pengalaman dan pengetahuannya, artinya orang-orang yang bijaksana itu selalu menggunakan pengalaman selama hidupnya untuk mengambil sikap atau mengambil keputusan yang tentunya mengalaman itu ada yang mendukung  targetnya dan ada yang tidak mendukung targetnya. Disamping itu sikap seseorang juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya, orang mau belajar atau tidak, mau menerapkan apa yan dipelajari atau tidak. Bagi orang bjaksana, ia akan menggunakan pengalaman yang mendukung, mau belajar dan mengunakan ilmu yang dipelajari untuk bersikap.

Selain itu orang bijaksana memiliki sikap arif artinya memiliki sikap sabar, rajin dan disiplin. Sabar artinya selalu mempertimbangkan akibat yang mungkin terjadi dari sikap yang diambil atau memiliki kesadaran dalam setiap tindakannya.

Sabar artinya apapun yang terjadi kita memiliki sikap yang sama, entah itu mengalami hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan sikap kita sama yaitu biasa-biasa saja. Artinya ketika mengalami hal yang menyenangkan tidak terlalu gembira, ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan tidak terlalu terpuruk serta penuh kesadaran dalam mengambil sikap atau keputusan. Sebagai contoh , misalnya kita mengikuti suatu kegiatan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita sehingga kita ingin keluar dari kegiatan tersebut, sebelum mengambil sikap untuk keluar dari kegiatan tersebut itu, bagi orang yang sabar akan melakukan pemaknaan ulang ke dalam diri yaitu

“ Jika saya tetap mengikuti kegiatan ini buruk/negatifnya apa? Mungkin jawabannya :

 Saya akan bosan mendengarkan pemaparan pembawa acara yang sudah saya mengerti (misalnya).

Atau kalau saya tetap mengikuti cara ini positif/baiknya apa? Mungkin jawabannya :

Mungkin ada hal baru yang belum saya pahami yang akan mengubah cara berpikir saya, cara saya mengambil keputusan atau bahkan mungkin nasib saya.”

Dengan demikian , jika kita adalah pribadi yang sabar juga memiliki ketajaman pemikiran untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik sesuai dengan tugas atau target kita.

Rajin artinya melakukan segala hal yang menjadi tugasnya, yang mendukung targetnya dengan penuh semangat tanpa perduli penilaian orang terhadap dia, sangat menghargai waktu.Dengan demikian jika Anda adalah pribadi yang bijaksana maka salah satu panutannya Anda adalah orang yang rajin

Disiplin memiliki pengertian selalu tepat waktu dalam melakukan segala sesuatu yang menjadi tugas maupun targetnya dengan penuh tanggung jawab. Artinya jika kita adalah pribadi yang disiplin , ketika mendapatkan tugas dari atasanya atau ketika kita memiliki target tertentu maka kita akan melakukan tugas atau kegiatan yang mendukung target kita dengan penuh semangat sehingga hasilnya sesuai dengan hasilnya atau targetnya dan sesuai juga dengan waktu yang sudah kita rencanakan.

Penjelasan di atas adalah pengertian secara umum bagaimana sikap-sikap orang yang memiliki pribadi bijaksana. Selanjutnya bagaimana sih sikap bijaksana jika kita menjadi pemimpin, sikap bijaksana kita di masyarakat, sikap bijaksana kita sebagai orang tua.

Mari simak penjelasan berikut ini :

Baca juga : Menjadi Guru Yang Mengajar Dengan Hati

Orang Tua yang bijaksana

Sebagai orang kita perlu memiliki sikap yang bijaksana. Agar menjadi orang tua yang bijaksana apa yang perlu dipelajari, sikap seperti apa yang perlu dikembangkan. Kita semua memiliki pengalaman sebagai anak-anak dari dalam kandungan, lahir sebagai bayi kemudian bertumbuh menjadi anank-anak, remaja dewasa dan menjadi tua kemudian kemabli ke asal kita.

Sebagai gambaran singkat , khusus untuk para ibu ketika hamil hendaknya menjaga hati dan perasaannya serta sebelum memutuskan menikah (baca hamil) hendaknya mengembangkan sikap-sikap bijaksana seperti yang dipaparkan di atas. Kenapa? Perlu dipahami apapun perasaan yang dialami oleh ibu ketika hamil akan langsung ditransfer ke sang bayi ke dalam pikiran bawah sadarnya. Lho kok bayi dalam kandungan memiliki pikiran bawah sadar? Ya, sejak usia kandungan 3 bulan, otaknya sudah terbentuk dan pikiran bawah sadar juga terbentuk sehingga apapun yang dialami oleh ibu ketika hamil juga akan dirasakan oleh bayinya yang tersimpan di memory jangka panjang pikiran bawah sadar dan akan mempengaruhi kehidupannya kelak ketika dewasa.

Selain itu sebagai orang tua di era digital (saat ini) perlu belajar tentang ilmu mendidik anak (parenting). Kebanyakan kesalahan orang tua terletak disini, kebanyakan orang tua ego terhadap anaknya, bahkan ada orang tua mengatakan saya tahu apa yang terbaik untuk anak saya. Ketika anaknya ditanya , si anak mengatakan ibu saya, bapak saya tidak mencintai saya, tidak menyayangi saya.

Lho kok!

Ingat, apa yang dilakukan orang tua untuk anaknya belum tentu itu hal yang dinginkan oleh anaknya sehingga anak melakukan dengan keterpaksaan yang berakibat kurang baik terhadap perkembangan si anak. Kadang juga ada orang tua yang hidup di masa lalu atau masa depan, hidup di masa lalu artinya bapak/ibu mengatakan dulu bapak/ibu begini atau begitu sementara sekarang perkembangan ilmu dan teknologi sudah banyak berubah , dimana cara orang tua kita dididik oleh kakek/nenek situasinya mungkin sudah banyak berubah sehingga jika hal yang sama diterapkan untuk mendidik anaknya belum tentu sesuai jika diterapkan terhadap anak kita saat ini. Untuk itu , sebagai orang tua perlu terus belajar dan belajar sehingga memiliki ilmu yang up to date tentang mendidik anak yang akhirnya memiliki sikap bijaksana dalam mendidik anak.

Baca juga : Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Melalui Bazar SMEKTI JUARA

Sikap bijaksana sebagai anggota masyarakat

 Sejak adanya masyarakat yang bernama manusia yang selalu berinteraksi satu dengan lainnya terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di semua bidang kehidupan.

Sebelum ditemukannya internet masyarakat berkomunikasi hanya dengan tatap muka atau via telpon rumah yang tidak semua orang memiliki, sehingga praktis untuk melakukan ineraksi kita harus keluar rumah menjumpai orang atau masyarakat yang ingin kita jumpai. Sejak ditemukannya intertent dan media sosial seperti saat ini kehidupan sosial sangat berubah, cara komunikasi dengan orang lain sangat berbeda saat ini, komunikasi dengan orang lain tidak terbatas dengan tempat dan waktu. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain kapan saja dan dimana saja hanya dengan perangkat yang cukup kita genggam. Demikian juga di bidang lain sudah mengalami banyak perubahan yang selayaknya kita ikuti dengan cara belajar dan belajar.

Sebagai contoh nyata yang mempengaruhi cara berpikir atau berperilaku masyarakat saat ini, ketika belum ditemukannya WhatsApp kita hanya bisa kirim sms (pesan singkat) , kita tidak tahu apakan sms kita sudah di baca atau tidak, tapi setelah munculnya WhatsApp hal ini menjadi masalah baru, ketika kita kirim pesan melalui WhatsApp akan muncul notifikasi pesan kita sudah di baca atau belum. Lho kok Cuma di baca tidak dibalas, harusnya kan dibalas. Nah khan! Notifikasi yang seharusnya untuk mempermudah justru menjadi masalah baru dalam kehidupan sosial

Contoh lain di bidang Kesehatan, dulu ada pemahaman yang diajarkan sejak sekolah dasar dan dianggap hal yang benar dan menjadi perilaku di masyarakat yaitu 4 sehat 5 sempuran yang terdiri dari makanan pokok (nasi), lauk pauk (daging, ikan, telur), sayur dan buah-buahan kemudian menjadi 5 sempurna setelah ditambahkan dengan susu. Seiring perkembangan ilmu gizi mungkin pemahaman 4 sehat 5 sempurna tidak sepenuhnya dianggap sesuai dengan kondisi saat ini, misalnya munculnya penganut vegetarian yang tidak makan daging, ikan bahkan ada yang tidak makan telur atau mungkin juga susu sehingga tidak sesuai dengan pemahaman 4 sehat 5 sempurna. Atau mungkin ada masyarakat yang tidak makan nasi, mereka cukup makan daging, ikan , sayur dan buah toh mereka sehat-sehat saja. Atau mungkin ada orang yang alergi dengan susu sehingga tidak minum susu yang berakibat tidak minum susu sehingga makanannya tidak 5 sempurna. Dan banyak contoh lagi.

Dari gambaran di atas, sebagai mahluk sosial kita perlu mengembangkan sikap bijaksana seperti yang dipaparkan di awal tulisan ini. Bagaimana caranya?

Tidak lain belajar dan belajar, terutama belajar tentang pengembangan diri sehingga kita bisa lebih memahami orang lain dan kita bisa bersikap bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya

Baca juga : OEMAR BAKRI JANGAN SAMPAI TIADA

Bijaksana Sebagai Pemimpin

Yang terakhir bagaimana sikap bijaksana sebagai seporang pemimpin, baik itu pemimpin di perusahaan, di instansi pemerintah, pemimpin di sekolah, di universitas dan sebagainya.

Sikap apa yang perlu dikembangkan?

Sebagai pemimpin yang memiliki karyawan yang harus kita bina dan kembangkan, agar menjadi pemimpin yang bijaksana perlu lebih banyak belajar lagi tentang ilmu pengembangan diri, ilmu kepemimpinan, ilmu psikologi, ilmu pikiran dan sebagainya.

Sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, selain memastikan semua karyawan bekerja sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan  juga hendaknya melakukan pengkaderan calon-calon pemimpin sebagai generasi penerus yang akan meneruskan kepemimpinan.

Seorang pemimpin yang bijaksana tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan karyawan atau anak buahnya.

Seorang pemimpin yang bijaksana akan mendelegasikan secepatnya (mempercayakan) pekerjaan-pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh stafnya, karena kalau tidak maka pemimpin akan kecapaian sendiri, stress dan mungkin akan Lelah sendiri sehingga targetnya tidak tercapai.

Yang tidak kalah pentingnya sebagai seorang pemimpin yang bijaksana hendaknya merencanakan untuk memastikan karyawan atau anak buahnya memiliki kesejahteraan secara material dan spiritual.

*) Berikut 5 tipe pemimpin yang sering kita jumpai yaitu :

1. Tipe pemimpin demokratis

Tipe pemimpin yang demokratis dengan gaya kepemimpinan efektif akan melahirkan karyawan inovatif dengan ide brilian dan gagasan yang dapat membawa perubahan bagi perusahaan. Walaupun mungkin tidak semua ide karyawan akan diaplikasikan untuk kemajuan perusahaan, namun setidaknya setiap karyawan mendapat kesempatan menyampaikan pendapat. Tipe pemimpin demokratis apakah sesuai dengan pengertian “bijaksana” yang dipaparkan di atas? Silahkan pemirsa menilai sendiri.

Yang jelas tipe pemimpin seperti ini sangat disukai oleh banyak orang , karena pendapat karyawan dihargai.

2. tipe pemimpin otoriter

Seperti namanya, pemimpin tipe otoriter sisi baiknya adalah memastikan pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu dan efektif tanpa banyak alasan, karena pemimpin memiliki matriks time balance dan tahu cara meningkatkan produktivitas kerja yang efektif. Maka mau tidak mau, karyawan jadi terlatih untuk disiplin dalam hal waktu dan ritme kerja.

Adapun sisi negatifnya, perlakuan pemimpin kepada karyawan cenderung menekan dan memaksakan kehendak hanya demi mencapai goals, sehingga seolah tidak peduli karyawan sedang sibuk menyelesaikan tugas lain. Pemimpin jenis ini akan memberikan pekerjaan tambahan hingga Anda sebagai karyawan terpaksa lembur dengan alasan demi akselerasi peningkatan profit perusahaan.

Meski perusahaan berkembang dan maju, namun tingkat resign dari perusahaan yang memiliki tipe pemimpin seperti ini bisa saja tinggi karena faktor kepemimpinan yang otoriter. Hal ini disebabkan ada beberapa individu yang tidak menyukai bekerja di bawah pressure atau tekanan.

3. tipe pemimpin karismatik

Tipe pemimpin yang ketiga yaitu pemimpin karismatik di mana tipe ini sisi positifnya adalah bawahan atau karyawan akan dengan senang hati melakukan apapun yang dibutuhkan pemimpin, mulai dari membantu project atau order baru yang harus segera ditangani, diminta melakukan revisi pekerjaan sesuai permintaan klien dan sebagainya. Karena pemimpin perusahaan berkharisma tinggi, karyawan akan merevisi pekerjaannya kembali dengan senang hati.

Sisi negatifnya, timbul ketergantungan yang tinggi terhadap pemimpin perusahaan akibat kenyamanan kerja yang diberikan. Suatu hari ketika ada pergantian pemimpin, maka kinerja dan produktivitas karyawan bisa  jadi mengalami penurunan dengan berbagai alasan, seperti pemimpin yang baru tidak senyaman pemimpin sebelumnya.

4. tipe pemimpn militeristik

Tipe pemimpin ini sangat mementingkan disiplin tingkat tinggi. Baginya, seorang pemimpin harus memiliki keahlian pemimpin yang sesungguhnya. Apabila karyawan memiliki sifat yang selaras dengan sang pemimpin, maka kolaborasi kerja yang efektif bisa tercipta. Datang ke kantor tepat waktu dan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai durasi deadline merupakan keharusan.

Sebaliknya, apabila karyawan tidak disiplin, dijamin mereka tidak akan bertahan lama bekerja di perusahaan tersebut, karena akan bermasalah dengan atasan, mulai dari mendapat teguran karena telat, kinerja yang lambat, dan kurang disiplin pada aturan kerja  perusahaan.

5. Tipe pemimpin paternalistik

Terakhir, ada tipe kepemimpinan yang dikenal dengan nama paternalistik. Penjelasan mudahnya, tipe pemimpin ini akan selalu memperlakukan bawahannya seperti pemula yang segalanya harus diajarkan, dipandu, dan dikontrol sesuai keinginan atasan. Bisa jadi, tipe pemimpin ini memiliki perfeksionis dalam kerja yang juga diinginkannya bisa dilakukan karyawannya, sehingga cenderung tidak percaya dengan karyawannya yang berakibat semua dikerjakan sesuai dengan keinginan pemimpin dan cenderung egoisme

Bagian terbaiknya, karyawan bisa perform dan dapat mengerjakan pekerjaan sesuai arahan atasan. Sisi negatifnya, kemandirian dan kreativitas pegawai jadi kurang berkembang serta tidak bebas dalam berpendapat untuk kontribusi terhadap kemajuan perusahaan.

Dari penjelasan 5 tipe pemimpin di atas, silahkan disimpulkan tipe pemimpin yang manakah yang termasuk pemimpin yang bijaksana.

Jika Anda sebagai seorang pemimpin Anda termasuk pemimpin yang mana, atau jika Anda adalah seorang karyawan pimpinan Anda termasuk pemimpin yang mana?

Jika Anda sebagai orang tua, apakah Anda orang tua yang bijaksana atau jika Anda seorang anak apakah orang tua Anda bijaksana ?

Dan yang terakhir, bagaimanakah keseharian Anda di masyarakat? Apakah Anda seorang yang bijaksana?

Semua kembali ke diri Anda masing-masing

*) Sumber : qubisa.com

______________________________________________________________________

Penulis : I Nengah Yasdwipura (guru multimedia SMKN 3 Mataram)

Artikel ini juga di posting di : lombokhealingfoundation.com