Usia Ke 51, “SEANDAINYA MAU”  SMK Negeri 3 Mataram  PASTI BISA !!!

Perlu Edukasi Untuk Masyarakat

Sampah merupakan produk yang dihasilkan dalam mengiringi aktivitas kehidupan manusia sehari-hari. Produk sampah secara umum memberikan dampak permasalahan dibandingkan dampak kebermanfatannya. Terlebih lagi jumlah produksi sampah di Kota Mataram yang cukup besar, dimana dalam satu hari diproduksi kurang lebih 400 ton sampah (Gatra, 2019).

Jika kita membaca informasi dari beberapa media, negara-negara maju seperti di Eropa, Jepang, Korea, bahkan Singapura, metode pengelolaan sampah sudah diterapkan sedemikian canggih. Bahkan, dapat dikatakan, semakin maju sebuah negara, pengelolaan sampahnya semakin baik. Salah satu pendukung terwujudnya kondisi di negara-negara maju tersebut adalah,ystem pengelolaan sampah yang diterapkan sudah sangat teratur. Selain menciptakan ystem pengelolaan sampah dengan benar. Negara-negara maju juga sudah berhasil dalam melakukan edukasi kepada warga negaranya tentang pentingnya membuang sampah dengan benar.Sebagai contoh, negara Jerman, agar warga negaranya mudah dalam melakukan pembuangan sampah, maka banyak ditemukan tempat-tempat sampah yang disesuaikan dengan kategori jenis sampahnya (Progress, 2018) Dengan menyediakan tempat sampah yang mudah terjangkau, maka meminimalisasi pembuangan sampah secara sembarangan oleh masyarakat, Sistem dendapun juga diterapkan, bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan. Demikian juga dengan pengelolaan sampah ystem, dengan teknologi yang canggih, jerman menyediakan tempat pembuangan sampah ystem berteknologi tinggi (Grenier, 2019). Masyarakat Jerman yang sudah terdidik dengan baik berkaitan dengan cara mengelola dan membuang sampah ini, dan didukung dengan system hukuman yang ditaati oleh masyarakatnya, maka system pengelolaan sampah yang canggih ini berjalan dengan baik.

Sementara di Jepang, masyarakat sudah terdidik sedemikian rupa terkait dengan pengelolaan sampah. Tidak heran, negara Jepang sangat terkenal dengan disiplin menjaga kebersihan. Bahkan, membuang sampah berdasarkan jenisnya saja dijadwal berdasarkan harinya. Misalnya hari Minggu dan Senin, dilarang membuang sampah, hari Selasa khusus sampah yang bisa dibakar (sampah sisa makanan, kertas), hari Rabu khusus sampah kaleng atau sampah tidak bisa di bakar, hari Kamis khusus untuk sampah botol kaca atau ystem, hari Jum’at ystem dijadwalkan sampah bisa di bakar (Miyashita. Y., 2017).  Aturan membuang sampah di Jepang mungkin termasuk yang paling rumit, oleh karena itu, jika masyarakat Jepang tidak teredukasi dengan baik, maka ystem seperti ini tidak akan mungkin berjalan dengan baik.

Sistem Pengelolaan Profesional Pengelolaan sampah yang baik yang sudah diterapkan negara-negara maju tersebut, kunci utamanya adalah pada penerapan system atau aturan serta proses edukasi pada masyarakatnya. Dalam hal ini, Indonesia masih jauh tertinggal, baik dalam sistem pengelolaan sampah maupun proses edukasi pada masyarakat. Berkaitan dengan proses edukasi, pembelajaran di sekolah berperan penting dalam menyadarkan masyarakat dalam hal pengelolaan sampah. Bahkan, pemerintah, melalui Kementrian Lingkungan Hidup memberikan apresiasi dalam bentuk Penghargaan Sekolah Adiwiyata, yaitu  sekolah-sekolah yang berhasil mengelola lingkungan sekolahnya, melalui proses pembelajaran dan merealisasikannya secara nyata. Tentu saja, pengelolaan lingkungan disini juga mencakup bagaimana mengelola sampah dengan baik. Penghargaan Sekolah Adiwiyata merupakan penghargaan bergengsi, karena, sekolah yang berhasil dalam meraih penghargaan ini merupakan sekolah yang betul-betul memahami pentingnya menjaga kondisi sehat lingkungan belajarnya dan sehat warga sekolahnya. Terlebih lagi bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),  dimana penyelengaraan Pendidikan di SMK adalah penyelenggaraan pendidikan yang membawa amanah kepercayaan tidak hanya dari orang tua siswa, melainkan juga dari Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA). Ketika sebuah SMK berhasil meraih prestasi sekolah Adiwiyata, maka DUDIKA sangat percaya, bahwa SMK yang bersangkutan betul-betul memperhatikan kesehatan jasmani dan rohani peserta didiknya, yang memang sangat diperlukan dalam memasuki DUDIKA setelah tamat nantinya. Sebagai contoh gallery dari SMK Wikrama Bogor, dengan sederet prestasinya dari tahun ke tahun, terutama prestasi berkaitan dengan pengelolaan lingkungan sekolah, baik Sekolah Sehat, Sekolah Kawasan Tanpa Asap Rokok, Sekolah Berbudaya Sehat, Green School, dan sampai berkali-kali meraih prestasi Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Kepercayaan DUDIKA kepada SMK Wikrama Bogor ,tidak diragukan lagi indiator paling nyata adalah keterserapan lulusan SMK Wikrama Bogor pada DUDIKA cukup besar.Bahkan,Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK Wikrama Bogor merupakan BKK paling berhasil diantara SMK-SMK diIndonesia lainnya.

Keberhasilan pendidikan pengelolaan sampah yang dimulai dari sekolah merupakan kunci sukses bagaimana memberikan edukasi kepada bagian anggota masyarakat. Jika Pendidikan ini berhasil, maka akan menciptakan kebiasaan baik bagi peserta didik yang akan diterapkan tidak hanya sewaktu mereka berada di sekolah, namun juga dalam keseharian di rumah dan masyarakat.

Bagaimana SMK Negeri 3 Mataram Menerapkan Pendidikan Pengelolaan Sampah?

Sebagai salah satu sekolah terbesar di Nusa Tenggara Barat, sudah sewajarnya jika pengelolaan lingkungan di SMK Negeri 3 Mataram menjadi salah satu agenda utama bagi sekolah. Jika dilihat dari model pengelolaan sampah yang berjalan selama ini, upaya-upaya yang dilakukan oleh SMK Negeri 3 Mataram masih belum maksimal. Apalagi, jika melihat hiruk pikuknya grup WhatsApp guru setiap hari, yang sering diwarnai laporan kelas yang kotor, sesungguhnya mencerminkan bahwa “Budaya Bersih” memang belum sepenuhnya menjadi kebiasaan yang dijalankan oleh warga SMK Negeri 3 Mataram. Sudah saatnya, sekolah menjadikan program pengelolaan lingkungan ini sebagai salah satu program utama, Apalagi tuntutan dari SMK Pusat Keunggulan, dimana Budaya Kerja Industri yang tercermin dari 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) sudah sewajarnya menjadi urat nadi kehidupan warga sekolah. Tentu saja, warga sekolah bisa diarahkan untuk mengikuti irama denyut nadi Budaya Kerja 5R ini, dengan catatan, sistem yang dibangun sekolah mengarah pada 5R. Sistem ini bisa dimulai dari pengelolaan sampah pada sudut-sudut lingkungan sekolah. Ketersediaan tempat sampah sesuai dengan kategorinya, sudah selayaknya ada dengan rasio dua ruangan satu paket tempat sampah, minimal dengan 2 Kategori, Sampah Organik (daun,kayu, sisa makanan), dan Sampah Anorganik (Kertas, Plastik), serta dilengkapi dengan kantung plastik sampah. Membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai melalui  penyediaan tempat sampah dengan rasio yang cukup, dan disertai dengan informasi yang memudahkan warga sekolah memilah dan membuang sampah, maka diharapkan edukasi pengelolaan sampah dapat dimulai dari setiap ruangan sekolah.

Ketika pemilahan sampah sudah dimulai dari setiap ruangan sekolah, maka akan memudahkan proses – proses selanjutnya. Petugas kebersihanpun pada akhirnya juga akan mudah memilah sampah dalam rangka pengolahan dan pemanfaatan selanjutnya. Apalagi, jika orientasi pembelajaran dari beberapa mata pelajaran seperti P5BK (ProyekPenguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja) serta mata pelajaran Proyek IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) akan ditekankan berbasis proyek pengelolaan lingkungan, maka edukasi kepada warga sekolah tentang pengelolaan lingkungan di SMK Negeri 3 Mataram akan menghasilkan produk-produk pengolahan limbah yang berdaya guna, serta dapat dijalankan secara berkesinambungan dan berkala. Penyediaan tempat sampah sesuai dengan kategorinya yang dilengkapi dengan kantung sampah, setidak-tidaknya akan mempermudah warga sekolah dalam membuang sampah dan meminimalisasi membuang sampah secara sembarangan. Awal-awal pelaksanaan program ini mungkin akan mendapatkan banyak kendala, terutama pemahaman warga tentang pentingnya memilah sampah sebelum dibuang pada tempat sampah sesuai kategorinya. Tidak menutup kemungkinan label kategori jenis sampah yang ditempel pada tempat sampah akan dianggap sebagai hiasan semata yang tanpa makna. Hal ini dikarenakan budaya memilah sampah belum menjadi kebiasaan bagi warga sekolah. Dilain hal, memilah sampah juga bagi kebanyakan orang akan menjadikan beban. Sebagai contoh, jajan yang disediakan di kantin sekolah, sering dikemas dalam  bungkus plastik. Ada kalanya, beberapa orang tidak bisa menghabiskan makanan jajan tersebut. Ketika akan membuang sampah, maka ini menjadi pekerjaan tambahan, yaitu, membuang sisa jajan pada tempat sampah organik, kemudian membuang bungkus plastiknya pada tempat sampah anorganik. Demikian juga yang sering ditemui, disaat berbagai acara dan kegiatan diadakan di sekolah, dimana jajan dan nasi biasanya disajikan untuk peserta acara dan sangat sering dijumpai terdapat sisa jajan dan nasi kotak. Tentu saja, membuang sisa makanan dan kotaknya perlu dipilah dan perlu kesabaran. Hal-hal seperti ini agar menjadi kebiasaan yang tertanam baik bagi semua warga sekolah diperlukan keseriusan dan kesabaran oleh pihak. Namun, bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terwujud di SMK Negeri 3 Mataram, hanya perlu kemauan untuk mulai fokus pada perwujudan sekolah peduli terhadap lingkungan.

Momen yang Tepat

Momen 28 Desember 2021, dimana usia SMK Negeri 3 Mataram memasuki tahun ke 51, maka ikhtiar-ikhtiar untuk menuju Sekolah Sehat, Sekolah Kawasan Bebas Asap Rokok, Green School, atau bahkan Sekolah Adiwiyata sudah mulai harus dijadikan prioritas pengembangannya.  Apalagi kurikulum yang disediakan oleh pemerintah saat ini, tidak lagi mengekang guru dan sekolah harus dijadikan kitab utama yang pergunakan sebagai pedoman pembelajaran secara kaku. Kurikulum menyediakan ruang gerak yang leluasa bagi guru untuk mengembangkan berbagai proyek berwawasan lingkungan terutama dalam rangka merealisasikan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Oleh krena itu, momentum usia emas, merupakan momentum emas juga bagi SMK Negeri 3 Mataram, untuk berbenah, menjadi sekolah yang berani menancapkan tonggak dalam rangka mengedukasi masyarakat agar peduli terhadap kebersihan, peduli terhadap pelestarian lingkungan, komitmen mewujudkan sekolah yang nyaman dan asri, komitmen untuk mulai berpikir mengeksplorasi potensi-potensi sampah yang ada, untuk diubah menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Pada usia yang ke 51 ini, dimulai dari penerapan sistem pengelolaan sampah yang baik, serta diiringi dengan kepatuhan warga SMK Negeri 3 Mataram dalam menerapkan edukasi membuang sampah yang baik, maka Budaya Kerja Industri sebagai nadi SMK Pusat Keunggulan akan menjadi budaya di SMK Negeri 3 Mataram.

Maka :

“SMK Negeri 3 Mataram PASTI BISA, jika ada kemauan”

Sumber tulisan :

Gatra. 2019. Produksi Sampah di Mataram Capai 400 Ton Sehari. Diakses melalui https://www.gatra.com/detail/news/411469/politic/produksi-sampah-di-mataram-capai-400-ton-sehari

Grenier, E. 2019. Begini Cara Orang Jerman Buang Sampah. Diakses melalui https://m.kaskus.co.id/thread/59b814fc98e31b12328b4567/begini-cara-orang-jerman-buang-sampah

Miyashita, Y. 2017. Tata Cara Pembuangan Sampah Jepang yang Penuh Aturan Terperinci. Diakses melalui https://www.sukasuki.org/2017/12/tata-cara-pembuangan-sampah-jepang-yang-penuh-aturan-terperinci

Progres. 2018. Pemisahan dan Pengelolaan Sampah di Jerman. Diakses secara online melalui https://studijerman.com/pemisahan-dan-pengelolaan-sampah-di-jerman

Penulis : Rida Rosalina, Guru Proyek IPAS

Editor : yas (Tim Media Center SMEKTI)