OEMAR BAKRI JANGAN SAMPAI TIADA

Lagu Oemar bakri merupakan lagu legendaris yang diciptakan oleh musisi Iwan Fals dan dirilis dalam albumnya pada bulan September Tahun 1981 (Wikipedia, 2020). Sosok Oemar Bakri yang digambarkan dalam lirik lagu tersebut merupakan sosok guru dengan gaya hidup sederhana, namun memiliki pengabdian dalam melaksanakan amanah pekerjaaanya yang luar biasa sebagai seorang pendidik. Bahkan, sosok Oemar Bakri dijadikan sebagai Pahlawan Bayangan terhadap profesi pendidik dan diulas sebagai pengantar berbagai tulisan, dalam rangka memperingati Hari Guru, sebagaimana yang juga yang dicantumkan dalam tulisan ini.

Kesederhanaan Oemar Bakri seperti yang dicantumkan dalam lirik lagunya, digambarkan sebagai sosok Guru Pegawai Negeri pada jaman itu, menggunakan sepeda kumbang, tas hitam terbuat dari kulit buaya, dan mungkin saja bentuknya tidak semewah tas kulit kebanyakan. Dalam kesehariannya, Oemar Bakri mengajar Ilmu Pasti, gambaran kita saat ini, Ilmu Pasti masuk pada kategori ilmu eksakta, seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan sejenisnya. Keikhlasan Oemar Bakri dalam menjalankan profesinya, digambarkan juga oleh Iwan Fals, banyak siswa yang telah berhasil menjadi dokter dan insinyur. Saat itu, profesi dokter dan insinyur merupakan profesi yang dianggap berhasil bagi kalangan masyarakat. Iwan Fals tentu saja memilki maksud dan tujuan dalam menciptakan lagu tersebut, terutama tujuan berkaitan dengan kritik kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap nasib guru PNS. Disisi lain, Iwan Fals mengangkat harkat dan martabat guru melalui sosok Oemar Bakri, dengan keikhlasannya yang mungkin tidak setimpal dengan penghasilnnya, namun berhasil mendidik siswa dengan berbagai macam profesi.

Menghadirkan kesederhanaan sosok Oemar Bakri pada situasi saat ini, bisa jadi tidak sesuai lagi. Kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap nasib guru, terutama berkaitan dengan gaji dan sertifikasi, menjadikan sosok hidup sederhana Oemar Bakri, hampir tidak akan lagi ditemui. Sepeda Kumbang, gaji kecil, baju lusuh, sudah tidak lagi mewarnai hidup keseharian guru. Bisa kita lihat, halaman parkir SMK Negeri 3 Mataram, sudah dipenuhi dengan berbagai merk mobil dan sepeda motor keluaran terbaru.  Bahkan, area parkir saat ini sudah tidak sesuai dengan rasio jumlah kendaraan yang ada.  Baju safari lusuh keseharian Oermar Bakri juga tidak akan lagi menjadi cirikhas penampilan guru. Saat ini, pakaian yang dikenakan guru, sudah merambah kearah berbagai model yang modis. Dengan penghasilan guru, semua itu dapat terjangkau. Bahkan, gaya hidup guru-pun yang sering ditampakkan dari  media sosial mereka, sudah menjangkau pada kebutuhan tersier, seperti rekreasi, wisata kuliner, perawatan tubuh dan kulit, ataupun jadwal perawatan ke salon secara rutin. Aktivitas-aktivitas yang secara mudah diketahui dari media sosial para guru, oleh kebanyakan orang dinilai bahwa kehidupan sosial guru sebenarnya tidak lagi memprihatinkan. Perubahan-perubahan gaya hidup tersebut bisa dikatakan wajar, karena memang sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi.  Terlebih lagi, kebijakan pemerintah terutama terkait dengan sertifikasi guru, sangat mendukung dan berpengaruh signifikan untuk meninggalkan jauh kehidupan sederhana Oemar Bakri.

Baca juga : Sekolah Menyenangkan Impian Masyarakat

Namun sesungguhnya, ketika berbicara pada sosok guru, kebanyakan orang akan lebih cenderung membicarakan sisi pekerjaan guru yang mulia. Istilah Jawa memberi kepanjangan kata Guru sebagai sosok yang di Gugu dan di tiRU, Gugu dimaknai sebagai diikuti kata-kata dan nasehatnya, sedangkan ditiRu, dimaknai bahwa seorang guru layak untuk diikuti tindak tanduknya. Kembali kepada sosok Oemar Bakri, Iwan Fals menggambarkan kesederhanaan hidupnya dikarenakan penghasilannya yang jauh dari layak, namun disisi lain, ketidaklayakan hidup itu tidak mempengaruhi keikhlasan pengabdian Oemar Bakri dalam menjalankan profesinya. Dalam hal ini Iwan Fals berusaha meyakinkan bahwa, keikhlasan mendidik dan mengajar, pada hakekatnya dapat dilaksanakan melalui profesi guru dalam kondisi apapun, tanpa harus mengaitkan dengan sisi kehidupannya. Jika ditarik kearah yang agak lebih jauh lagi, Oemar Bakri mengajarkan bahwa pilihan profesi guru yang utama sesungguhnya bukan untuk mencari kesejahteraan. Profesi guru lebih ditekankan pada pengabdian.

Baca juga Sekolah Menyenangkan Impian Masyarakat

Oemar Bakri mengajarkan makna pengabdian, bahwa profesi sesorang guru sesungguhnya dipilih bukan karena keterpaksaan. Profesi guru adalah panggilan hati, dipilih secara tulus ikhlas dan rasa cinta. Ketika ikhlas dan cinta tersebut  betul-betul dijadikan landasan, maka akan membawa seorang guru kepada kebahagiaan yang tentu tidak dapat dinilai dengan materi.  Kebahagiaan itu tergambar  pada motivasi mendidik dan mengajar yang tinggi, mengembangkan profesi diri berjelanjutan dalam rangka memupuk potensi, serta menumbuhkembangkan kemampuan inovasi tiada henti. Pengabdian ikhlas tersebut berdampak pada keinginan untuk selalu bertemu siswa dengan performa maksimal, berpenampilan terbaik didepan siswa, serta mempersiapkan materi sebagai representasi inovasi pembelajaran yang tertata dengan baik. 

Namun, data-data yang terhimpun dari aktivitas pemantauan kegiatan guru sehari-hari kadang mengatakan sebaliknya. Ketika melihat banyaknya guru disekolah yang tidak hadir menunaikan “pengabdian” mengajarnya, bisa jadi bahwa profesi guru yang dipilihnya belum memberikan rasa bahagia Berbagai kegiatan diluar maupun kondisi-kondisi lain, justru lebih sering  menyita waktu sebagian guru dibanding menunaikan kewajiban mengajarnya. Bisa jadi, memilih tidak hadir mengajar atau sering terlambat mengajar mungkin disebabkan karena bingung dan malas berhadapan dengan siswa dengan karakter “unik”nya. Bahkan, fenomena unik akhir-akhir ini dimana banyak siswa satu kelas kompak meninggalkan guru sesungguhnya menjadi instrospeksi bagi guru. Bisa jadi keengganan siswa bersama guru dikelas, disebabkan karena di era milenial seperti saat ini, masih banyak guru yang mengajar secara klasikal, lebih banyak ceramah, atau sekedar memberi tugas siswa untuk mencatatat. Model-model mengajar era tahun 70an 80an, yang masih dipertahankan sampai sekarang, sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan karakter siswa. Bahkan, tidak sedikit guru yang sudah masuk di kelas, justru lebih sibuk bermain dengan Handphone (HP)-nya dari pada “berbahagia” bersama-sama siswa mengekplorasi materi pembelajaran. Beberapa guru lebih memilih menginstrusikan siswa mengerjakan tugas pada buku, selebihnya, menibukkan diri dengan HP-nya. Tidak menutup kemungkinan, keengganan siswa bersama guru akhir-akhir ini, disebabkan karena secara psikologis guru juga engan bersama siswa di kelas, enggan mengembangkan materi, enggan berinovasi sesuai karakter keunikan siswa, enggan “bahagia” bersama siswa dengan menyajikan inovasi-inovasi yang berbeda setiap saat.

Gambar Guru yang ditinggalkan oleh Siswa

Tuntutan pembelajaran era saat sekarang ini, sesungguhnya betumpu pada 4C, meliputi  critical thinking and problem solving, creativity, communication skills, dan collaboratively. Untuk menghantarkan siswa agar memiliki soft skils 4Ctersebutm berpikir kritis, berpikir kreatif, mampu berkomunikasi, dan mampu bekerjasama secara tim tersebut, sesungguhnya perlu diikhtiarkan secara berkesinambungan. Kesempatan terbaik yang dimiliki guru untuk menumbuhkembangkan 4C dalam diri siswa tersebut adalah melalui proses pembelajaran setiap hari. Jika dalam 18 minggu dalam satu semester, 36 minggu dalam satu tahun dipersiapkan secara berkesinambungan untuk mengajar bercirikhas 4C, maka akan menjadi media optimal bagi guru mengasah soft skills 4C siswa. Guru menjalani profesinya secara bahagia, sesungguhnya dapat diwujudkan melalui penyajian pembelajaran 4C tersebut. Semangat menerapkan metode 4C dalam setiap pertemuan, akan menginspirasi guru agar dapat meramu materi menarik setiap kali bertemu ssiwa. Langkah-demi langkah akan dipikrikan guru bagaimana agar siswa aktif berdiskusi dan berkolaborasi secara kelompok di kelas. Strategi demi strategi akan diramu guru bagaimana siswa semangat tampil  berkomunikasi dalam setiap pertemuannya. Sehingga, semangat inovasi itu akan mengalir dalam menyongsong setiap pertemuan dengan siswa. Namun, jika metode klasikal lebih dipilih oleh guru dengan kepasrahannya, atau bahkan lebih nyaman menghindari siwa dengan sering memberikan tugas, atau lebih senang terlambat masuk kelas karena bingung menghadapi keunikan siswa karena minimnya persiapan, atau lebih senang memilih bermain HP daripada memilih bersama siswa bereksplorasi mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan, maka, tidak menutup kemungkinan, suatu saat, guru akan ditinggalkan oleh siswa. Bisa jadi karena memilih profesi guru bukan karena panggilan hati, tetapi karena keterpaksaan. Terlebih lagi jika lebih ditekankan pada orientasi materi karena kebutuhan. Maka, pada hakekatnya, profesi guru bukan untuk mencari materi, karena sesuanggunya, tidak akan pernah mendapatkan kecukupan materi dari pekerjaan guru. Profesi guru adalah pengabdian, proses menanamkan investasi jangka panjang untuk masa depan terbaik bagi siswa.  Semangat pengabdian dan cinta profesi, berimbas pada semangat pengembangan dan inovasi. Semangat-semangat ini menumbuhkan kebahagiaan lahir dan batin tersendiri bagi guru.

Profesi guru adalah profesi pelaksanaan filosofi Ki Hajar Dewantara, profesi yang  Menghamba Pada Siswa. Mencintai profesi guru, akan melahirkan kebahagian bagi guru. Pada akhirnya, guru yang bahagia adalah guru yang semangat untuk bersama bahagia dengan siswa. Guru yang bahagia adalah guru yang semangat menghadapi keunikan karakter siswa dengan ramuan-ramuan ampuh  berbentuk metode dan inovasi pengembangan materi. Guru yang bahagia adalah guru-guru yang ikhlas melayani siswa dalam rangka menyingsing masa depan-nya.  Jika kesederhanaan hidup Oemar Bakri telah hilang dari kehidupan guru, semoga keikhlasan pengabdian Oemar Bakri jangan pernah hilang dari kehidupan guru.  Insya Allah, mengabdi berwadah profesi guru dalam rangka Menghamba Pada Siswa, TIDAK AKAN PERNAH MAKAN HATI sebagaimana bait lagu Iwan Fals.

Selamat Hari Guru Untuk Bapak/Ibu Guru Hebat SMK Negeri 3 Mataram, 25 November 2021.

Anwar Muhaimin.

Daftar Pustaka

Utami, L.D. 2021. Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 Dari 70 Negara. DIakses secara online melalui https://perpustakaan.kemendagri.go.id/?p=4661

Wikipedia, 2020. Sarjana Muda (Album). Diakses secara online melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Sarjana_Muda_(album)