D E D I K A S I

(Sebuah renungan)

Oleh: Ahmad Gazi Paedullah

Bagaimana anak-anak ?…bisa kita lanjut langkah berikutnya ? (Tanya seorang guru kepada siswa dalam pembelajaran dikelasnya). Diulangi lagi pak !,.. saya belum faham langkah yang tadi pak guru, … lanjuuut (riuh suara siswa) !. sejenak mata tertuju pada Alfi yang berhadap-hadapan dengan Irfan di bagian belakang, keduanya tertunduk diam. Saat dihampiri, seperti keseringan terjadi langkah-langkah yang sudah didemonstrasikan dan penjelasan yang diberikan sebelumnya belum dipahami (belum bisa di lakukan ) pun demikian dengan Irfan seperti udah diatur selalu berdampingan dengan Alfi (satu circle-nya).

Disisi depan Saung terlihat tertunduk (posisi tidur) terkesan malas begitu juga soffy dan Risti anak-anak yang kemampuan akademik dan skill motoriknya bagus cendrung bosan jika pembelajaran – penyampaian materi agak lambat.

Realitas itulah yang terjadi didalam kelas yang hari-hari dihadapi guru. Tepat para ahli pendidikan menggambarkannya sebagai “Kurva Nomal”. Sebagian kecil siswa berada pada kaki kurva. Satu sisi menggambarkan jumlah siswa (sedikit) berkemampuan diatas rata-rata (cerdas) dan satu sisi yang berseberangan kaki kurva menunjukkan sedikit siswa yang berkemampuan rendah (cenderung dibawah rata-rata). Bagian kurva yang ditengah menggambarkan kemampuan rata-rata sebagaian besar siswa dalam sebuah kelas.

Kurva Normal (karakteristik peserta didik dalam Kelas)

Menghadapi berbagai tipikal siswa seperti realitas cerita diatas…sejenak sang guru tertegun-dalam hati “Ya Allah Sang Maha Pemberi Petunjuk – berikanlah Kemudahan kepadaku – berikanlah Kefahaman kepada anak-anak ku” teringat permohonan yang selalu terucap diawal mulai pembelajran.

Guru menghampiri Saung Galing, Risti dan Soffy…Nak buka modul halaman 11 lanjutkan sesuai langkah berikutnya – OK !…OK pak (jawab siswa tersebut penuh semangat). Anak-anak perhatikan lagi kedepan Bapak ulang langkah sebelumnya – perhatikan dan ikuti langkahnya (guru memberikan pengulangan langkah penggunaan Tools Autocad dasar dalam penggambaran denah bangunan). Baiklah anak-anak silahkan di coba kembali dan teruskan gambarnya, nanti Bapak Cek kembali – seru pak guru menginstruksikan,..Siap pak ! – riuh suara sebagian besar para siswa.

Dibagian belakang didekat meja Alfi. Irpan kesini Nak (pak guru minta Irpan duduk mendekat di kursi Alfi…dua anak ini harus dijelaskan ulang secara perlahan – terkadang perlu tangannya dipegang bagaimana menggerakkan mouse dengan benar. Bagaimana nak ? faham? (kata pak guru)…Alfi dan Irpan tersenyum malu tapi dari tatapannya ada harapan dia bisa walau perlahan. OK nak di coba kembali dan terus berlatih – cetus pak guru.

Baca juga : Mimpi Itu Bernama “Taman Pelajar Smekti”

Itulah sepenggal kisah aktivitas pembelajaran anak-anak yang sering ditemukan, mungkin Bapak/ ibu guru menempuh cara/mempraktekkan metode pembelajaran yang berbeda sesuai konteks dan masalah yang dihadapi.

Menghadapi rutinitas dan problematika pembelajaran seperti diatas ada 2 kemungkinan respon dari guru yang kadang terjadi. Kemungkinan yang pertama dihadapi dengan biasa saja mengajar sesuai prosedur rutin menjelaskan materi yang disiapkan sampai jam tatap muka selesai (secara formal kewajiban gugur – tugas selesai). Tipikal ini mungkin tidak menyadari heterogenitas potensi peserta didik sehingga hasil pembelajaran tidak maksimal. Kemungkinan kedua  menyadari perbedaan potensi dari peserta didik dan berusaha mencari solusi agar tujuan pembelajaran tercapai yakni “ semua peserta didik paham tujuan dan memperoleh manfaat dari proses pembelajaran”. Penggalan kisah diatas membuat penulis berfikir – dan mencoba menganalisa, apa yang dibutuhkan menghaadapi realitas problematika pembelajaran diatas?…yang paling mendasar adalah Dedikasi !.

Dedikasi

Dikutip dari laman Wikipedia setidaknya ada dua pengertian ; 1). Dedikasi adalah sebuah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha yang mempunyai tujuan yang mulia, dedikasi ini bisa juga berarti pengabdian untuk melaksanakan cita-cita yang luhur dan diperlukan adanya sebuah keyakinan yang teguh; 2). Dedikasi adalah perilaku matahari yang tetap setia membagi cahaya kepada penduduk di bumi, terbit dan tenggelam sesuai dengan waktu yang ditentukan. 

Yup … Istilah dedikasi bagi guru menunjukkan sikap dan kinerja seseorang guru terhadap pekerjaan dan lembaganya. Kata dedikasi digunakan untuk menggambarkan sikap dan pengorbanan seseorang guru terhadap sesuatu yang menjadi tugas atau profesinya yakni,  “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sikdiknas 2003)”. Dalam lingkup yang palaing kecil tugas guru memberikan pembelajaran/kefahaman kepada seluruh peserta didik sesuai tujuan pembelajaran.

Ciri-ciri orang yang berdedikasi

Mengacu pada arti dedikasi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan kualitas sikap dan kinerja seseorang. Seseorang dapat dikatakan memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya apabila memiliki ciri-ciri perilaku seperti:

  1. Memiliki Semangat Tinggi

Seseorang yang memiliki sikap dedikasi yang tinggi maka sudah pasti akan berkorban untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Seorang guru yang berdedikasi tentu lebih mengutamakan tugasnya dari pada hal-hal lain yang tidak penting diluar tugasnya. Rela mengorbankan waktu diluar jam pembelajaran untuk menyelesaikan masalah pembelajaran yang dihadapinya.

Dedikasi seorang guru terlihat juga saat berusaha maksimal mencara solusi cara – metode pembelajaran yang tepat demi tercapainya tujuan pembelajaran bagi semua anak didiknya.

Baca juga : Program Sabtu Budaya Menuju Gerakan Sekolah Menyenangkan

Atau bisa juga ditujukan dari sikap yang rela bekerja lembur untuk memberikan hasil. Dedikasi yang tinggi juga tercermin ketika seseorang mau menghargai hasil kerja rekan sejawatnya.

  • Memiliki Sikap Melayani

Dedikasi bukan hanya pemenuhan aktualisasi diri, tetapi untuk menumbuhkan jiwa melayani. Seseorang yang tidak memiliki sifat dedikasi biasanya juga tidak memiliki jiwa untuk melayani.

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani “ (Ki Hajar Dewantara). Semboyan Bapak Pendidikan Nasional tersebut menggambarkan Sikap dedikasi tersebut. Jika didepan/jadi pemimpin (guru dalam memberikan pembelajaran) harus mampu menjadi suri tauladan (rule model), jika ditengah (saat berinteraksi dengan anak didik) harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak didik sehingga bisa lebih maju dalam belajar. Dan terakhir guru diharapkan mau memberikan kepercayaan kepada anak didiknya dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.

Guru yang berdedikasi cenderung tidak memandang posisinya/profesinya…tidak perlu panggung dan tepuk tangan dari sekitarnya…tetapi bekerja dengan tanggung jawab penuh dan berharap rahmat dari Tuhan, tidak egois dan suka menolong.

  • Memiliki Komitmen Tinggi

Indikator lainnya pada guru dengan kepribadian yang berdedikasi tinggi yaitu memiliki komitmen tinggi dalam setiap pekerjaannya. Guru seperti ini cenderung untuk tidak suka menunda-nunda pekerjaannya.

Seseorang yang berdedikasi juga tidak suka mengeluh atas pekerjaan yang harus diselesaikannya. Itu adalah bentuk komitmen yang harus terus dijaga. Karena sejatinya, seseorang yang berdedikasi merupakan orang yang mencintai pekerjaannya serta akan mengerjakannya sepenuh hati.

  • Memiliki Jiwa Menyenangkan

Seberat apapun tanggung jawab pekerjaan tersebut biasanya mereka tetap memiliki sikap yang menyenangkan dengan harapan agar menciptakan suasana kerja yang nyaman, karena bagi mereka memiliki gaji besar saja tidak cukup tanpa adanya rasa nyaman saat bekerja. Itu semua merupakan perwujudan dari rasa tanggung jawab yang tinggi dalam pekerjaan.

Bagi seseorang yang berdedikasi, cenderung akan mencari lingkungan yang membuatnya nyaman bahkan tak jarang menciptakan kenyamanan untuk orang lain.

Menjadi seorang guru adalah pilihan yang bertanggung jawab. Tanggung jawab kepada; 1). Tanggung jawab secara hukum kepada Negara (sumpah jabatan sebagai guru-ASN), terikat pula dengan aturan/norma Profesi; 2) Tanggung jawab secara moral kepada masyarakat yang telah mempercayakan anak-anaknya untuk di didik menjadi insan/pribadi yang lebih baik dengan segala potensi dan kelemahannya.; 3). Tanggung jawab secara spiritual kepada Tuhan yang Maha Esa. Setiap apa yang kita kerjakan akan di pertangung jawabkan kelak dihadapanNya.

Rene Descartes seorang filsuf rasionalis francis berkata, “aku berpikir, maka aku ada,” seorang yang berdedikasi berkata,” aku melayani, maka aku ada,” keberadaan dirinya ditentukan oleh sejauh mana dirinya bermanfaat. Mereka pelayan yang terbaik untuk lingkungannya.

Duhai guruku tercinta. Jadilah matahari bagi anak didikmu, jadilah patner yang melayani bagi rekan dan pimpinan dalam lembagamu, jadikanlah setiap pekerjaan sebagai bagian ibadah bagi Tuhanmu…semua itu akan tercapai bila DEDIKASI tersemai subur dalam jiwa…semoga.

Mataram, 14 November 2021

Sumber gambar dedikasi : lektur.id