Program Sabtu Budaya Menuju Gerakan Sekolah Menyenangkan

Kamis, 11 November 2021 merupakan hari spesial bagi SMK Negeri 3 Mataram yang merupakan Evaluasi Sabtu Budaya yang dicanangkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tengara Barat. Kegiatan evalusi ini dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Kebudayaan yaitu Bapak Ach Fairus Zabadi yang juga selalu mengisi Rubrik Abu Macel di koran Lombok Post. Pada kesempatan itu SMK Negeri 3 Mataram sebagai sekolah yang dievaluasi menampilkan beberapa pentas seni yang sempat ditampilkan pada hari Sabtu beberapa waktu lalu antara lain, Gendang Beleq, Presean, Barong Sai, Tari Tradisional Lombok, Perkusi dan Engrang.

Usai pentas seni dilanjutkan dengan diskusi Budaya yang diselenggarakan di Aula SMK Negeri 3 Mataram.

Diskusi Pemajuan Kebudayaan

Dalam pemaparanya bapak Kepala Bidang menyampaiakn bahwa semua produk manusia itu adalah produk kebudayaan. Ada 3 hal yang saling berkaitan pada perspektif kebudayaan yaitu benar, baik, dan indah.

Benar saja tetapi tidak ada baik dan indah itu namanya personal.Setiap orang punya hak berdaulat atas kebenaran yang ia miliki maka orang boleh berdaulat atas kebenaran yang ia yakini. Ini namanya kebenaran personal.

Jika kebenaran personal akan kita tawarkan ke orang lain maka harus ada etika dan estetika (harus ada baik dan indahnya). Sehebat apapun kebenaran yang kita miliki tetapi tidak beretika dan berestetika, tidak akan sampai ke orang lain atau dengan kata lain tidak akan diterima.

Waspada dan hati-hati dalam menyampaikan kebenaran kepada anak-anak. Misalnya menyuruh anak bercita-cita setinggi langit dan bermimpi menjadi orang sukses sesuai keinginannya. Anak SD, anak SMP atau SMA pasti memiliki pemahaman yang berbeda tentang mimpi. Seperti ada kasus anak SD yang tidak mau pergi ke sekolah dan memilih tidur di rumah. Ketika ditanya oleh orang tua, anak tersebut menjawab, “Saya tidak akan ke sekolah hari ini, karena kemarin bu guru menyuruh saya bermimpi. Tadi malam saya tidak memiliki mimpi maka pagi ini tidur akan saya lanjutkan untuk bermimpi.” Ini adalah salah satu contoh kesalahpahaman tentang penyampaian kebenaran. Metodologi menyampaikan kebenaran yang harus diperbaiki.

Baca juga artikel : Mimpi Itu Bernama “Taman Pelajar Smekti”

Kebenaran personal yang dapat diterima tanpa kesepakatan tetapi dengan saling menyemangati akan berubah menjadi kebenaran komunal. Kebenaran komunal ini merupakan hukum yang tidak tertulis. Contoh, menyuguhkan kopi dengan cangkir kepada tamu karena sadar dan ingin memuliakan tamu adalah salah satu contoh kebenaran komunal yang berkebudayaan. Jadi kebudayaan itu sesungguhnya adalah manata akhlak, bukan sekedar berkesenian karena kesenian itu hanya 1 diantara 10 objek pemajuan kebudayaan.

Mungkin gambar 4 orang, orang berdiri dan luar ruangan

Jadilah pintar dengan belajar dan jadilah baik dengan kesadaran.

Perubahan tingkatan kebenaran tersebut di atas berdasarkan uraian dari bapak Ach Fairus Zabadi dapat saya gambarkan dengan diagram berikut :

Kebenaran komunal yang dimusyawarahkan sehingga mendapat kesepakatan tertulis akan menghasilkan kebenaran organisasional. Kebenaran organisasional yang diresmikan dan disetujui pemimpin melahirkan keputusan atau peraturan, seperti keputusan kepala sekolah atau peraturan sekolah atau peraturan perundang-undangan dari tingkat pusat ke bawah atau dari hulu hingga hilir.

Berbicara tentang Undang-undang, mari kita cermati Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Di antara 2 Undang-Undang ini saling bersinergi satu sama lainnya.

UU Sisdiknas : Melaksanakan dunia pendidikan itu harus berkebudayaan.

UU Pemajuan Kebudayaan : Untuk menjalankan nilai-nilai perlindungan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan harus berada di wilayah satuan pendidikan.

Baca juga : Kontribusi Mata Pelajaran Proyek Ipa-S Dalam Mewujudkan Smk Negeri 3 Mataram Sebagai Sekolah Berwawasan Lingkungan

Inilah rumusan yang mencetuskan Sabtu Budaya, istilah untuk melakukan gerakan pemajuan kebudayaan NTB yang ditawarkan oleh pak Aidy Furqon dan pak Ach Fairus Zabadi melalui musyawarah sehingga didapatkan kesepakatan tertulis yang merupakan kebenaran organisasional dan diresmikan menjadi Keputusan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Mengapa ada sabtu budaya di sekolah? Karena IPK atau Indeks Pembangunan Kebudayaan yang disusun atas 7 dimensi dan 31 indikator, 21 diantaranya ada di dunia pendidikan. Perlu diketahui, nilai IPK NTB berada di posisi 5 nasional yaitu 59,92.

Pemerintah akan membuatkan Perda kebudayaan di sekolah, menjadikan kegiatan ekstra kurikuler, ko kurikuler dan intra kurikuler mengandung kebudayaan. Perda ini akan didukung oleh para insan pendidikan dengan menyusun modul-modul muatan lokal.Selain itu, dibuatkan surat edaran memperdengarkan lagu nasional dan daerah kepada semua elemen yang ada di sekolah (dunia pendidikan).

Konsep Sabtu Budaya

  1. Gotong royong yang merupakan ketahanan sosial budaya, tidak hanya gotong royong membersihkan lingkungan tetapi juga menjenguk teman yang sakit sehingga ada nilai atau point sosialnya juga.
  2. Permainan rakyat
  3. Olahraga tradisional

Point 2 dan 3 dirangkum dalam suatu gerakan senam gemar gatra. Gemar Gatra artinya Pengembangan Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Senam ini diciptakan oleh alumni SMAN 1 Suele yang tinggal di desa Pesugulan. Dia adalah seorang Doktor Fisiotherapy. Jadi gerakan senam gemar gatra ini tidak sembarangan dibuat melainkan melalui proses pemikiran seorang fisiotherapis.

Mari kita pertahankan dan sukseskan kegiatan sabtu budaya menuju sekolah yang menyenangkan dengan kolaborasi beberapa mata pelajaran. Diantaranya mapel bahasa (rumpun literasi, membaca kitab suci misal shalawatan, tahfidz, murotal atau membaca di luar kitab suci seperti membaca puisi dan lainnya), mapel PKN, mapel sejarah, mapel olahraga dan mapel kesenian. Para siswa dibuatkan jadwal per kelas untuk mengadakan pertunjukan kebudayaan.Sehingga rangkaian kegiatan Sabtu Budaya menjadi senam gemar gatra, pertunjukan budaya dan gotong royong.

Tindak lanjut dari kegiatan pemajuan kebudayaan ini adalah Wisata Belajar. Wisata belajar terdiri dari 3 unsur yaitu pendidikan, kebudayaan dan pembangunan daerah. Kegiatan wisata belajar ini dapat dilakukan untuk melihat atau menerapkan langsung pembelajaran di sekolah ke lapangan ataupun bisa dilakukan ke lintas pengetahuan artinya ke sekolah lain dengan disiplin ilmu yang berbeda dengan tujuan untuk pengembangan talenta peserta didik.

Semua program pemajuan kebudayaan ini akan berlangsung sukses dan berkesinambungan dengan dukungan semua pihak di sekolah.

Salam Budaya

Zuliatun Mur (Guru SMKN 3 Mataram)