Tantangan Mendidik Generasi Digital Native
Tumbuhkan Filter pada Generasi Digital Natives untuk Memuluskan Impian  Digital Mereka Halaman 1 - Kompasiana.com

Setiap generasi punya karakteristiknya sendiri. Peserta didik khususnya dari tingkatan dasar sampai menengah adalah demografi yang lahir setelah 1997. Mereka tumbuh dan dibesarkan di era teknologi komputer, televisi, radio, gadget canggih dengan berbagai macam merk dan internet. Kelompok ini adalah generasi yang tumbuh ketika teknologi informasi sudah mengakar dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Mereka disebut digital native, penduduk asli era digital yang juga disebut generasi Z.

Sensus Kependudukan Tahun 2020 (Rilis BPS Januari 2021) Komposisi generasi digital native (generasi Z) 27.94% paling besar diantara komposisi generasi penduduk Indonesia lainnya. Artinya Generasi Z memegang peranan penting dan pengaruh bagi perkembangan Indonesia saat ini dan Nanti.

Salah satu karakteristik generasi digital native adalah kemampuan dalam menggunakan teknologi komputer dan mobile smartphone dengan mudah, baik untuk menelusuri informasi maupun hiburan, seperti browsing, chatting dan yang paling digemari adalah bermain game melalui komputer maupun perangkat mobile.

Istiyana (2016) merangkum beberapa tinjauan pustaka tentang karakteristik generasi digital native antara lain:

  1. Kemampuan multi-tasking (melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu) sangat tinggi.
  2. Cenderung ingin memperoleh suatu informasi secara cepat sehingga kadang tidak memberikan toleransi terhadap suatu yang bersifat terlambat.
  3. Cenderung lebih mudah memahami gambar dibanding teks. Akibatnya, menonton film dianggap lebih menyenangkan daripada harus membaca buku sejarah berlembar-lembar.
  4. Lebih suka mempelajari sesuatu yang bersifat aktif dan interaktif melalui kegiatan nyata. Bermain game lebih disukai dibanding mendengarkan cerita.
  5. Penghargaan (reward) adalah sesuatu yang mereka harapkan ketika berhasil menyelesaikan sesuatu. Reward membuat mereka merasa usahanya dihargai.
  6. Harapan bahwa teknologi adalah bagian dari hidupnya merupakan bagian yang menonjol. Mereka berharap dapat menyelesaikan apapun dengan mudah melalui teknologi.

Berbeda dengan para guru yang pada umumnya lahir tahun 70 dan 80-an. Pada masa itu teknologi informasi tidak terlalu dominan. Kebanyakan dari para guru adalah mereka yang mulai memanfaatkan teknologi setelah agak dewasa atau digital immigrant. Perbedaan antara guru dan siswa ini memisahkan kedua generasi di antara jurang digital.

Melihat karakteristik Generasi digital native (generasi Z) dan adanya kesenjangan jurang  digital dengan para guru saat ini, tentu selayaknya para guru harus beradaptasi – berbenah dalam rangka mendidik generasi Z menyongsong masa depannya. Para guru hendaknya mengubah cara mendidiknya – tidak bisa lagi dengan cara-cara usang, tetapi harus lebih kekinian.

Mengutip pendapat para pakar bagamana mendidik generasi Z. tips yang sebaiknya dipertimbangkan antara lain:

  1. Jangan jauhkan anak dari gadget

Seringkali gadget dianggap sebagai hal negatif bagi anak. Padahal, gadget sama dengan benda lainnya yang memiliki dampak positif dan negatif. Sebaiknya manfaatkan gadget untuk memaksimalkan pembelajaran – jangan jauhkan dari anak, namun bimbinglah mereka cara memanfaatkan gadget dan internet secara bijak dan positif. Adigium “ setiap zaman punya caranya” setiap generasi harus di didik sesuai dengan zamannya.

  • Inovasi Pembelajaran Baru

Generasi Z tidak akan optimal menggunakan metode belajar konvensional seperti generasi-generasi sebelumnya. Perlu terus berinovasi dalam media pembelajaran yang lebih seru dan dekat dengan “ Generasi Digital” seperti media visual – interaktif.

  • Optimalisasi Internet

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok di era digital saat ini, termasuk menjadi sumber belajar – mempermudah mengakses materi belajar. Optimalisasi internet sebagai sumber belajar harus dilakukan.

Sudah siapkah guru beradaptasi? Aaasiap …sejarah membuktikan profesi guru adalah profesi tertua yang tetap eksis – dari zaman Plato hingga kini.

Mataram, 24 Oktober 2021

Penulis : Ahmad Gazi Paedullah

( Guru Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan SMK N 3 Mataram )

Sumber gambar :