Mengajar adalah Hak Yang Harus Diraih ?
Tahap Mengelola Proses Pembelajaran | Ilmu Pendidikan

Mari bayangkan sejenak, suasana belajar dikelas, dilapangan olah raga – ditempat siswa-siswa belajar. Apakah terdengar dengungan para siswa yang tertarik dan memperhatikan pelajaran ?, Apakah ada tangan-tangan teracung penuh antusias dan gairah  dengan penuh rasa ingin tahu?. Adakah keriangan berbagi wawasan dan kehangatan saling tukar perkataan yang menyemangati ? dapatkah dirasakan pengaruh pembelajaran dari tatapan-tatapan mata para siswa terhadap kehidupan mereka?.

Jika ya – Proses belajar/mengajar dapat dikatakan berhasil. Tetapi jika tidak –  ada yang perlu dievaluasi dalam Proses belajar/mengajar yang diselenggarakan. Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi dan sampai sejauh mana anda mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung (Lazanov, 1978 dalam Bobbi De Porter dkk, 1999). Lalu apa yang harus dievaluasi? Salah satunya adalah relasi antara guru dan siswa.

Karena Proses belajar/mengajar melibatkan semua aspek kepribadian – pikiran, perasaan, dan Bahasa tubuh – disamping pengetahuan, sikap dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa datang. Dengan kata lain pembelajaran adalah kegiatan full contact – yang berurusan dengan orang (siswa) secara keseluruhan, maka untuk memperoleh kemudahan dalam proses pembelajaran Guru harus memperoleh hak mengajar mereka. Ijazah dan Sertifikat mengajar hanya menunjukkan wewenang untuk mengajar. Mengajar adalah hak yang harus diraih dan diberikan oleh siswa, bukan diberikan oleh Sekolah pun Dinas Pendidikan. Untuk meraihnya bagaimana?

“Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka (Quantum Teaching)”

Konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka maksudnya: Guru masuki dulu dunia mereka. Dengan memasuki dunia siswa maka mereka akan memberi izin untuk memimpin, menuntun dan memudahkan perjalanan mereka menuju kesadaran pengetahuan yang lebih luas.

Implementasinya dalam pembelajaran dengan mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan dari kehidupan rumah, sosial, atletik, music seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa mereka kedalam dunia Guru (baca:pembelajaran yang direncanakan), dan memberi mereka pemahaman tentang isi dunia itu .

So … marilah para guru raihlah hak/dapatkan izin untuk mengajar dari para siswa dengan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” semoga proses belajar/mengajar yang berlangsung berjalan – berhasil lebih baik dan bermakna bagi anak didik.

Mataram, 20 Oktober 2021

Penulis : Ahmad Gazi Paedullah

( Guru Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan SMK N 3 Mataram )

Sumber gambar : ilmu-pendidikan.net