Keterampilan Computational Thinking atau berpikir secara komputasi sangat penting untuk dimiliki oleh semua individu. Banyak orang mengira bahwa Computational Thinking hanya untuk mereka yang akan mendalami ilmu komputer. Hal ini ada benar dan ada salahnya, Keberadaan computational thinking tidak terlepas dari pembelajaran berbasis komputasi, dimana penguasaan kemampuan ini kan menjadi dasar kuat untuk mengembangkan ilmu teknologi informatika. Pada dasarnya, kemampuan berpikir komputasi akan dibutuhkan semua orang karena berpikir secara komputasi merupakan proses berpikir yang melibatkan bagaimana cara untuk memformulasikan persoalan (mengidentifikasi persoalan) dan mengajukan solusinya. Diharapkan, solusi yang dihasilkan dapat direpresentasikan dalam bentuk yang secara efektif bisa dikerjakan oleh manusia. Computational thinking membuat manusia menjadi kreatif dan inovatif untuk menghasilkan solusi-solusi persoalan kompleks dunia.

Pada proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, Computational Thinking ini merupakan keterampilan yang wajib diberikan kepada semua siswa. Transfer kompetensi dari pengajar ke ssiwa pada keterampilan ini selayaknya disampaikan secara menyenangkan dan membebaskan siswa dengan sekat-sekat berpikir sebuah mata pelajaran saja. Siswa diberikan keterampilan proses berpikir secara komputasi dengan dihadapkan pada pemecahan masalah yang rumit kemudian diubah menjadi tahap-tahap yang lebih sederhana (kecil), diarahkan mengenali sebuah pola, men-setting dan menciptakan serangkaian tahapan untuk memperoleh solusi, serta menyusun sebuah tafsir data dengan simulasi.

Secara sederhana, ada 4 metode Computational Thinking yang dijelaskan oleh ibu Katarina Augustin pada GERAKAN PANDAI WORKSHOP DAN PELATIHAN COMPUTATIONAL THINKING BEBRAS UNIVERSITAS BUMIGORA NUSA TENGGARA BARAT yang sepenuhnya disponsori oleh google.org pada hari sabtu tanggal 16 Oktober 2021 di Dikbud NTB.

Implementasi Computational Thinking melalui Gerakan PANDAI dalam proses pembelajaran meliputi :

  1. Analisis muatan mata pelajaran, yaitu analisis mata pelajaran apa saja yang masuk dalam persoalan/masalah,
  2. Analisis muatan Computational Thinking, meliputi:
  3. Abstraksi : fokus pada informasi yang penting saja dan mengabaikan informasi lain yang tidak relevan
  4. Dekomposisi : mengurai masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil sehingga lebih mudah untuk ditangani
  5. Pattern Recognition : mencari persamaan atau pola yang terdapat di dalam permasalahan
  6. Algoritma : menentukan langkah demi langkah solusi untuk mengatasi masalah atau prosedur yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah.
  7. Analisis muatan High Order Thinking Skills

Untuk merangsang siswa mempelajarinya dengan baik maka BEBRAS mengadakan kompetisi computational thinking international yang dilakukan secara daring (online). Kompetisi ini juga dilakukan bebras untuk mempromosikan computational thinking (berpikir dengan landasan komputasi) di kalangan guru dan semua siswa dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MAN. Pedoman Tantangan Bebras Indonesia 2021 dapat di download https://drive.google.com/file/d/1yvTaMOz_C7NvBDkwsDZpBCwec4W0mgZB/view?usp=sharing

Semua siswa memiliki kesempatan untuk mengikuti kompetisi Bebras Indonesia, tetapi sebelum menuju ke tingkat nasional, ada tingkat provinsi yang harus kalian ikuti. Bagi siswa SMKN 3 Mataram yang ingin mengikuti kompetisi bebras provinsi yang dilaksanakan oleh Universitas Bumigora NTB dapat menghubungi bagian kurikulum.

Penulis : Zuliatun Mur, S.T.

(Guru Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan SMK N 3 Mataram)